Kamis, 07 Agustus 2014

Edelweis-ku

Mimpi itu, tak pernah sedikitpun menghianati benakku sampai saat ini.

Selalu menyatu dengan aliran darah.

Bagaikan sebuah kereta api, mimpi itu tak pernah berhenti berlari dalam otakku.

Bagai bunga-bunga indah yang tak pernah menghianati musim semi.

Bagai mentari yang terik saat musim panas.

Bagai daun-daun kering berwarna oranye yang tak pernah berhenti mendekorasi musim gugur.

Bagai salju putih nan lembut yang tak pernah absent saat musim dingin menjelma.

Bagai angin yang tak henti-hentinya menyejukkan hati.

Terbingkai indah dalam sebuah harap.

Dan akan terus seperti itu sampai kedua bola mata ini menyaksikannya.

Sampai kedua tangan ini menyentuhnya.

Sampai bibir ini mengecupnya.

Sampai jantung ini berdebar karenanya.

Sampai kaki ini berpijak padanya.

Sampai diri ini berhasil merasakannya.

Begitulah mimpi itu terus berada di dalam sini.

Di suatu tempat paling indah di dalam diri setiap manusia.

Sesuatu yang tanpa henti bergulir

Aku belum pernah tahu, mengapa ada sesuatu yang disebut waktu?
Aku belum pernah tahu, mengapa waktu selalu berubah sifat.
Kadang ia baik, lalu ia mendatangkan hal baik bahkan berkesan bagi setiap manusia.
Akan tetapi terkadang, ia malah merenggut kebahagiaan setiap manusia.
Mengapa manusia harus menunggu untuk sebuah 'waktu'?
Mengapa ada kutipan yang berbunyi, "Biar waktu yang akan menjawab"?
Mengapa manusia mempercayai sesuatu yang tidak berpendirian? Sesuatu yang dengan gampangnya berubah sifat. Berubah kepribadian.

KARENA kita tidak pernah memanfaatkan waktu yang ada.
KARENA waktu yang dibuang, waktu yang terbuang, atau entah apa, sudah terlalu banyak. Begitu banyak. Banyak sekali.

Sabtu, 28 Juni 2014

Saya paling suka persimpangan jalan itu...

         Aku paling suka persimpangan jalan itu. Deretan memori klasik berbaris indah di sana. Semua teringat kembali. Semua kejadian klasik kala diri ini masih berseragam putih dan merah, yang jika dibalik warnanya menjadi senada dengan warna bendera kebanggaan Negeri ini. Dalam senyum dengan mata terpejam, aku menikmatinya.

        Banyak yang berubah kini. Namun kesan klasik yang disuguhinya, takkan pernah berubah. Kios-kios itu masih berbaris indah di sana. Masih ada beberapa pedagang yang berjualan di depannya, walau tak sebanyak dahulu. Seorang lelaki setengah baya yang tak bisa dibilang kurus, namun tak pula gendut, dengan ransel kecil yang sudah lusuh di atas salah satu punggungnya, berjalan cepat-cepat melewati deretan kios yang memanggil. Hal itu adalah salah satu yang paling aku kagumi dalam persimpangan jalan itu. Seorang kakek dengan gerobak yang ia dorong penuh harapan, itupun salah satu cuplikan masa lalu yang menyapa ingatanku. Mini market yang dahulu begitu akrab denganku dan ibu, bahkan ayah, juga tak mau kalah bersaing. Semua terjadi saat aku berdiri menatap persimpangan itu. Memori-memori tadi memancing rasa rindu di dalam hati. Setidaknya, ada hal yang tak banyak berubah di kota ini. Iya, di situ tempatnya. Sudut yang aku kagumi dari kota ini. Persimpangan itu.



Sudut yang aku kagumi

         Sayangnya, hanya sebuah foto di zaman modern ini yang berhasil aku dapatkan. Namun benar, bukan? Persimpangan jalan itu adalah salah satu hal yang tidak banyak berubah dari kesan pertamaku. Bangunannya masih lusuh, dan mengagumkan. 
      
      Aku tidak begitu yakin kalau itulah persimpangan jalan yang menjadi salah satu favorite spot-ku di Manado tercinta ini, karena aku yang belum berhasil memotretnya secara langsung. Tapi kira-kira begitulah bentuknya. Sudut yang aku kagumi itu. Aku menyebutnya, 'Kota Tua-nya Manado'.













Sabtu, 07 Juni 2014

A Friendship System

           Alexandria Anastasia. Begitulah kedua orang tua tercinta menamaiku. Sungguh indah, bukan? Terus-menerus aku mengagumi nama yang ku miliki itu, kala masa remaja mulai menyentuh kehidupanku. Kata Mama, sih, aku dilahirkan di Alexandria, salah satu kota besar di Mesir saat Ayah dipindahtugaskan ke sana selama 2 tahun, tepat di tahun pertama Ayah menikahi Mama. Betapa cemerlangnya pula alasan pemberian nama itu, bukan?

           Masa-masa remaja pun berlalu dengan indahnya. Aku berhasil merasakan cinta dari semua orang yang benar-benar tulus mencintaiku. Namun, hanya ada dua cinta yang masih bertahan sampai sekarang, saat aku tengah duduk di bangku kuliah. Cinta dari Ayah dan Mama, serta cinta dari dua orang sahabatku, Milita dan Sevia. Walau kami bertiga telah memilih jalan hidup kami masing-masing, persahabatan itu masih saja terjalin manis hingga saat ini. Milita meneruskan pendidikannya di Fakultas Kedokteran. Sevia, sekarang tengah menekuni bisnis keluarga mereka, yaitu Bakerry shop. Aku sendiri, sekarang tengah berkuliah di Fakultas Teknik, Jurusan Informatika di Kota ini. Aku memilih jurusan itu hanya karena satu hal; aku menjadikannya sebuah mimpi yang akan kujadikan nyata di masa depan.

            “Mbak, minta sendok sama garpunya, dong!” kataku pada seorang pelayan saat aku, Milita dan Sevia berhasil bertemu hanya untuk sekedar menghabiskan akhir pekan yang sungguh mahal harganya. Jumat, Sabtu dan Minggu. Hanya 3 hari dalam seminggu aku bisa menghilangkan penat. Hanya 3 hari dalam seminggu aku bisa benar-benar merasa santai. Hanya 3 hari dalam seminggu, kami bisa bertemu. Kecuali, saat tugas mulai mengurungku hanya dalam sebuah ruang berbentuk persegi; kamarku sendiri.

             “Itu, di tempat sendok masih ada, Mbak,” jawab si pelayan.

             “Iya.. itu tinggal sendok, kan? Aku juga butuh garpu!” Aku bersihkeras.

             “Lex, lihat, nih, ya,” kata Milita sembari membuka tissue yang melilit garpu dan sendok bersamaan. “Jangan bikin malu, deh!” tambah Milita. Sevia menggeleng-gelengkan kepalanya. Mbak pelayan pun berlalu.

             Aku tersipu malu. Pipiku memanas, dan seketika itu berubah kemerahan. Aku tidak menyangka kalau garpu dan sendok dibungkus secara bersamaan dengan satu helai tissue.

             “Ya, jangan gitu, lah, Mil. Aku, kan, malu sama Mbak-Mbak yang tadi,”

             “Lah, habis gimana? Kamu jadi kayak asal nuduh tahu, nggak!”

             Seperti itulah Milita. Ia tidak pernah berpikir betapa malunya orang yang katanya adalah sahabatnya saat Ia mulai berulah. Sevia pun tidak kalah menyebalkannya. Bahkan Sevia pernah mengomentari style-ku dengan begitu terbukanya di depan banyak orang. Waktu itu, aku memang sedang terburu-buru. Maka aku hanya mengambil secara acak bajuku di lemari dan mengenakannya. Tak kusangka, warna baju dan jeans yang aku kenakan saat itu sangat tidak cocok. Tapi apakah tidak bisa Sevia membisikkannya saja padaku, tanpa diketahui oleh orang lain di sekitar kita?

             Entah mengapa, apapun yang mereka lakukan, aku masih saja sangat menyayangi mereka seperti terhadap saudara-saudara perempuanku sendiri. Namun, semuanya bukanlah tanpa alasan, karena mereka adalah orang-orang yang selalu ada untukku, apapun yang terjadi. Mereka adalah orang-orang yang membagi tawa denganku tanpa ragu, mereka tidak akan bersenang-senang dan melakukan hal-hal bodoh tanpaku. Kami telah melalui banyak sekali cerita bersama. Dan aku tidak akan pernah menemukan alasan untuk meninggalkan mereka. Mungkin saja mereka melakukan hal semacam itu agar aku segera sadar atas kebodohanku sendiri yang kurang teliti.

*

             “Kok nggak kasih tau dari tadi, sih? Aku, kan, malu sama orang-orang yang ketawa tadi,” kataku pada Radisa, salah seorang temanku.

             “Aku nggak enak juga, sih, mau kasih tahu kamu,” Radisa agak takut.

             “Tapi, kan, sekarang aku lebih malu lagi. Karena orang-orang ketawa nfeliat restletting belakang aku kebuka, dan kamu yang dari tadi tahu dan ada di dekat aku, malah diam aja.”

             “Aku nggak enak kalau aku bilang tadi, kamu pasti malu banget.”

             “Mendingan mana sama sekarang? Satu koridor udah lihat tadi. Kalo dari awal kamu kasih tahu, aku nggak bakal semalu ini.”

             Aku benar-benar kecewa terhadap Radisa. Ia sudah tahu sejak awal kalau terjadi sesuatu yang akan membuatku malu, namun ia tidak menyampaikannya segera. Sekarang, aku benar-benar malu.

             Aku menjadi serba salah. Aku tidak suka dengan Milita dan Sevia yang terlalu jujur dan terbuka, tapi aku juga tidak suka dengan Radisa, yang karena tidak enak hati, Ia tidak bersikap jujur dan terbuka. Entah kesalahannya berada di mana. Pada diri mereka dengan pemikiran yang mereka anut masing-masing, atau pada diriku yang belum bisa mengerti mana yang sebenarnya baik untukku.

             Namun dari semua hal itu, aku banyak belajar. Semua hal yang terjadi padaku, pada kehidupanku, tergantung dari beberapa faktor. Faktor dari luar, dan faktor dari dalam. Faktor dari luarnya adalah orang-orang yang berlaku sesuai dengan pemikiran mereka masing-masing terhadapku, yang akan berdampak pada kehidupanku, dan faktor dari dalamnya adalah bagaimana aku bereaksi terhadap faktor-faktor dari luar itu sendiri.

             Sekarang, hanya ada satu orang yang akan memperbaikinya, yaitu diriku sendiri. Hanya diri ini yang pantas memilih jalinan persahabatan macam apa yang diinginkannya. All the choice, is on my hand.


I dedicated this story for my dear friend, ayu's short movie assignment. So I hope the best for your assignment's score :)))

(((CERPEN)))

Minggu, 18 Mei 2014

Totolan is Special

           Di mana lagi aku bisa melihat warna hijau mengalun indah sejauh mata memandang? Di mana lagi aku bisa menyaksikan para sapi-sapi berbaris tak beraturan di atas hamparan rumput setebal debu yang menghiasi rumah tak berpenghuni? Di mana lagi aku bisa menghirup aroma dedaunan hijau yang pekat menutupi rongga hidung? Di mana lagi aku bisa melihat mentari terbit dengan begitu jelasnya? Membiaskan cahayanya yang nyata di atas hamparan padi-padi hijau, mengubah langit biru menjadi warna oranye yang begitu aku kagumi, serta memicingkan kedua mata ini kala memandangnya, namun tiada lelah bola-bola mata ini memandanginya. Di mana lagi aku bisa merasa begitu dekat dengan rembulan bersama bintang-gemintangnya? Di mana lagi aku bisa menghirup nafas bebas kehirukpikukan? Di sini. Semua terjadi di sini.

           Tanggal 28 Mei 2014 menjadi hari yang paling membingungkan, membosankan, menjengkelkan, namun merupakan hari yang aku bersama teman-teman nantikan. Hari itu secara resmi, kami tiba di sebuah desa di Kecamatan Kakas Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara untuk menjalankan tugas yang diamanatkan tempat, di mana aku sedang berkuliah. Sekarang, aku bersama teman-teman tengah duduk di tahun terakhir masa perkuliahan kami. Maka berbagai Praktek Kerja Lapangan harus kami lakukan untuk menyelesaikan kuliah kami. Salah satunya adalah di sini. Desa ini hanya terpisah jarak beberapa kilometer dari Kota Manado, tempat di mana aku menetap. Tidak begitu jauh, namun tidak juga begitu dekat. Ah, aku bingung. Namun bukan di situ titik permasalahannya.

           Desa itu dinamai 'Desa Totolan'. Secara acak, aku bersama keenam orang teman-temanku ditugaskan untuk melakukan Praktek Kerja Lapangan di Desa Totolan. Jujur saja, ini kali pertama aku mendengar nama Desa itu. Maka keadaan Desa itu pun hanya menjadi bayangan gelap di dalam kepalaku.

           Namun sekarang, sungguh banyak yang aku kagumi dari Desa ini. Jalanan sepanjang 1,5 kilometer yang menyuguhkan pemandangan indah tanpa tara, rembulan dan bintang-bintang yang terlihat sangaaaaaat jelas, air panas yang mengepulkan asapnya tanpa henti, sawah yang membentang sejauh mata memandang, masyarakat yang begitu ramah dan bersahabat, serta tak lupa pemuda dan pemudi desa yang yang sangat welcome dengan kedatangan kami. Semua hal itu sangat membekas di kedalaman hatiku. Terlukis indah dengan tinta warna-warni yang memberi warna senada di dalam hari-hariku selama berada di sini. Aku sangat bersyukur pernah mengenal Desa ini dengan segala yang ada di dalamnya. Aku sangat bersyukur karena telah dikesankan oleh semua keajaiban alam yang ada di sini. Mereka telah menambah daftar kekagumanku terhadap sesuatu. Desa ini benar-benar telah merasuk ke dalam tubuhku dalam hitungan hari. Itu mengapa, Totolan is special.

Good bye and see you when I see you... :')


Desa Totolan, Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara




Rabu, 09 April 2014

If I can choose what talent that I want to be in myself

I love to be a drawer. Don't know why.
But Allah doesn't put that talent on me.
It's so sad, but I believe in 'why' Allah doesn't put it on me, even though I don't know what it is.

Because of that, I love to see people who can draw, and people who can paint around me.
I think that they're lucky to have it, which I'm not.

I love to see every line on the stretch book. I love to see them so much. Because I can't.

Who can draw and even paint, are sooooo lucky for me.
That's a beautiful talent in the universe.

Who can do that, are so sexy.

--------------------------------------------------------------------

Jari-jari yang penuh dengan tinta, jari-jari yang sangat kukagumi.
Bagaimana bisa jari-jari itu dengan santainya, dengan mudahnya, tanpa beban, menari-nari di atas hamparan kertas putih bersih sampai muncullah sesuatu di sana.

Aku benar-benar mengaguminya...
Bagaimana bisa mereka melakukannya, sedangkan aku tidak.
Dan bagaimana bisa aku mengagumi sesuatu yang jauh dari yang bisa kuraih.

Aku bahkan mengagumi setiap orang yang bisa melakukannya.
They are special...

:)

Selasa, 08 April 2014

Pedang dan Bunga

Pedang akan lebih mudah diingat dari pada bunga.
Pedang yang menggoreskan luka, akan meninggalkan bekasnya di sana.
Sedangkan bunga, adalah hal yang mampu melukis senyum di bibir, yang juga tak akan menghapus bekasnya.

Melupakan tajamnya pedang, selalu lebih sulit daripada melupakan indahnya sekuntum bunga.

Bekas dari ketajaman sang belati mampu menggugurkan bunga-bunga yang bermekaran.
Mengiris-iris sang indah, menjadi tumpukan sampah tak berarti.
Ia akan terus berkobar di dalam hati hingga pada saatnya, sang pemilik hati berkenalan dengan sesuatu yang disebut 'ikhlas'.

Ikhlas yang akan membantu memekarkan kembali tumpukan sampah tak berarti tadi.

Namun, sang ikhlas tak semudah itu untuk dapat ditemui.
Usaha saja tidak cukup hanya untuk bertemu dengan sang ikhlas.
Ia begitu jauh...
Jauh sekali dari hati yang masih penuh dengan amarah.
Amarah yang berhasil dipicu oleh goresan sang pedang.
Luka yang menancap dalam batin, akan lebih sulit disembuhkan daripada luka yang kasat mata.
Tergantung seberapa besar batin yang terluka itu ingin bertemu dengan sang ikhlas.

Angkatlah seikat bunga-bunga indah, kemudian letakan tepat di depan dada.
Cobalah mengingat betapa banyak kebahagiaan yang berhasil diukir oleh sang bunga, sampai, bahkan setelah goresan itu terbentuk.
Dan ingatlah betapa berartinya manusia-manusia yang telah memberikan bunga-bunga itu.

Karena pada akhirnya, tetap saja, air mampu memadamkan api.