Rabu, 09 April 2014

If I can choose what talent that I want to be in myself

I love to be a drawer. Don't know why.
But Allah doesn't put that talent on me.
It's so sad, but I believe in 'why' Allah doesn't put it on me, even though I don't know what it is.

Because of that, I love to see people who can draw, and people who can paint around me.
I think that they're lucky to have it, which I'm not.

I love to see every line on the stretch book. I love to see them so much. Because I can't.

Who can draw and even paint, are sooooo lucky for me.
That's a beautiful talent in the universe.

Who can do that, are so sexy.

--------------------------------------------------------------------

Jari-jari yang penuh dengan tinta, jari-jari yang sangat kukagumi.
Bagaimana bisa jari-jari itu dengan santainya, dengan mudahnya, tanpa beban, menari-nari di atas hamparan kertas putih bersih sampai muncullah sesuatu di sana.

Aku benar-benar mengaguminya...
Bagaimana bisa mereka melakukannya, sedangkan aku tidak.
Dan bagaimana bisa aku mengagumi sesuatu yang jauh dari yang bisa kuraih.

Aku bahkan mengagumi setiap orang yang bisa melakukannya.
They are special...

:)

Selasa, 08 April 2014

Pedang dan Bunga

Pedang akan lebih mudah diingat dari pada bunga.
Pedang yang menggoreskan luka, akan meninggalkan bekasnya di sana.
Sedangkan bunga, adalah hal yang mampu melukis senyum di bibir, yang juga tak akan menghapus bekasnya.

Melupakan tajamnya pedang, selalu lebih sulit daripada melupakan indahnya sekuntum bunga.

Bekas dari ketajaman sang belati mampu menggugurkan bunga-bunga yang bermekaran.
Mengiris-iris sang indah, menjadi tumpukan sampah tak berarti.
Ia akan terus berkobar di dalam hati hingga pada saatnya, sang pemilik hati berkenalan dengan sesuatu yang disebut 'ikhlas'.

Ikhlas yang akan membantu memekarkan kembali tumpukan sampah tak berarti tadi.

Namun, sang ikhlas tak semudah itu untuk dapat ditemui.
Usaha saja tidak cukup hanya untuk bertemu dengan sang ikhlas.
Ia begitu jauh...
Jauh sekali dari hati yang masih penuh dengan amarah.
Amarah yang berhasil dipicu oleh goresan sang pedang.
Luka yang menancap dalam batin, akan lebih sulit disembuhkan daripada luka yang kasat mata.
Tergantung seberapa besar batin yang terluka itu ingin bertemu dengan sang ikhlas.

Angkatlah seikat bunga-bunga indah, kemudian letakan tepat di depan dada.
Cobalah mengingat betapa banyak kebahagiaan yang berhasil diukir oleh sang bunga, sampai, bahkan setelah goresan itu terbentuk.
Dan ingatlah betapa berartinya manusia-manusia yang telah memberikan bunga-bunga itu.

Karena pada akhirnya, tetap saja, air mampu memadamkan api.

Kamis, 27 Maret 2014

Siang, malam, dan tidur

Bagaimana jika tiga kata kita urai menjadi sebuah cerita?

           Siang yang cerah. Mentari berada tepat di puncak cakrawala. Tak henti-hentinya ia mendebar-debarkan jantung ini. Tak henti-hentinya ia membuat lengan ini terus mengusap keringat di dahi.

            Aku teringat akan sebuah janji. Janji yang terucap dalam diam. Ponselku berdering sesaat sebelum aku menaiki angkutan kota dengan warna biru yang menjadi trademark-nya. Saat itu, seseorang meminta persetujuanku untuk menemaninya melakukan satu hal. Satu hal yang jarang kulakukan sejak satu kata 'putus' tiga tahun yang lalu berhasil keluar dari mulutku dengan murkanya. Sejak saat itu, aku menutup diri untuk hal semacam itu. Sampai orang yang berbicara di ujung telefon tadi berhasil mencairkan hati ini.

            Malam tiba. Sesuai waktu yang telah dijanjikan, kami bertemu di tempat yang telah dijanjikan pula. Vintage style membalut hangat tubuhku malam ini. Kemeja biru tua bermotif bunga-bunga jadul yang kupadupadankan dengan rok hampir selutut berwarna senada, serta wedge setinggi 7cm. Aku memoles tipis wajahku dengan bedak dan sedikit lipstic berwarna nude di bibir, warna senada dengan wedge yang aku kenakan.

            Saat langkah ini berakhir, aku mendapatinya sedang berdiri sembari tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan senyuman tipis, lalu kami memasuki ruangan berukuran besar dengan banyak orang di dalamnya yang dihipnotis masal oleh sebuah layar berukuran sangat besar. Layar raksasa itu sedang memutar film bertema dokumenter yang juga berhasil menghipnotis kami berdua.

            Malam telah larut. Ia mengantarku sampai di depan pintu rumah yang tertutup rapat. Setelah mengucap salam, Ia pun segera berlalu.

            Setelah semua yang hal yang terjadi hari ini, rutinitas yang kulakukan di kampusku, hal yang secara spontan terjadi dan mendapatkan persetujuanku, aku berakhir di sini. Di sudut ruangan berukuran 5x8 meter yang telah saling mengenal denganku sejak 21 tahun yang lalu, saat aku dibawa pulang dari sebuah rumah sakit bersalin. Sebuah ruangan yang telah mengalami perubahan sangat signifikan dari very first look-nya.

            Aku membaringkan tubuhku di atas kasur yang paling nyaman yang pernah ada, kemudian terlelap dalam angan.

Sabtu, 15 Maret 2014

A Love Language

           Menghambat aktivitas, membuat waktu bergerak lambat, membuatku merasakan malas sepanjang hari, suara yang mengganggu telinga, percikan yang tak ramah, membuat hari begitu kelabu, awan gelap, langit bergemuruh, dan masih banyak lagi.

           Begitulah aku sangat tidak menyukai suatu hal yang disebut hujan. Bahkan, bisa dibilang aku sangat membencinya. Aku benar-benar merasa tidak nyaman kala hujan mengguyur deras, atau pun hanya gerimis. Aku bahkan pernah merasa muak, kesal, dan marah di kala hujan datang. Alasannya adalah satu atau beberapa hal yang tertulis di atas.

           Bahkan, di kota yang kukagumi ini pun, aku masih harus merasakan yang namanya hujan. Rasanya, sudah cukup waktu yang kulewati untuk beristirahat seharian ini. Dan sekarang, aku ingin sekali pergi untuk melihat-lihat kota ini. Menyapa setiap sudut kota ini. Memberikan senyuman ramah, khas Negara kelahiranku.

           Waktu yang ku punya pun hanyalah sebentar. Tujuh hari. Lalu kenapa hujan harus mengacaukannya juga? Susah payah aku menabung dan mendapatkan izin kedua orang tuaku sehingga sekarang aku bisa berada di sini. Tapi, aku malah tidak bisa ke mana-mana seharian ini.

           Aku Syelia Myranka. Aku sedang berada di sebuah Negara, di bagian barat daya Eropa. Bersama dengan Portugal, Negara kerajaan ini terletak di semenanjung Iberia. Lansekap Negara ini didominasi oleh dataran tinggi dan pegunungan, seperti Pirenia dan Sierra Nevada. Dari tempat-tempat tersebut, mengalirlah berbagai sungai.

           Aku ada di sini karena sebuah mimpi. Sebuah mimpi yang selama ini mengganggu pikiranku; Ingin melihat secara langsung sebuah club sepak bola kebanggaanku bertanding.

           Aku memang adalah seorang perempuan yang sedang beranjak dewasa. Yang walaupun aku sangat berpenampilan feminine, aku juga sangat tertarik dengan olahraga sepak bola. Bukan untuk memainkannya, melainkan untuk menjadikannya sebuah tontonan yang sangat menarik. Tidak sekali pun aku melewatkan penampilan di lapangan hijau club kebanggaanku itu lewat layar kaca televisi.

          Club itu memang adalah sebuah club sepak bola yang berasal dari salah satu kota di Negara ini. Maka aku harus datang kemari jika ingin menyaksikan kelihaian mereka menggiring bola secara langsung. Jika harus menunggu mereka untuk mengadakan tour ke Negara kelahiranku, aku rasa hanya membuang-buang waktu saja. Maka semenjak aku duduk di bangku kelas 3 SMP, semenjak aku mulai mengagumi mereka, club itu, aku memulai menabung. Mulai menyisihkan sedikit demi sedikit uang jajanku. Aku melakukannya benar-benar dengan sunguh-sungguh. Ini adalah salah satu keinginan terbesarku dalam hidup ini.

          Hingga akhirnya, hari ini pun tiba. Hari yang aku rasa sangat tepat untuk melakukan perjalanan ini setelah berhasil mendapat izin dari kedua orang tuaku dengan susah payah, juga tambahan uang dari mereka.

          Sangat susah payah aku mendapatkan izin mereka. Bahkan aku harus selalu mengingatkannya pada kedua orang tuaku setiap saat. Aku berusaha menjadi seorang anak yang paling baik yang pernah mereka miliki, mendengarkan apa kata mereka tanpa sedikit pun bantahan keluar dari mulutku, aku benar-benar berusaha keras untuk mendapatkan satu kata ‘ya’ keluar dari mulut mereka. Maksudku, 2 kata ‘ya’ masing-masing dari mulut mama dan papa.

          Negara kelahiranku sendiri terletak di bagian tenggara Asia. Jadi, perjalanan yang berhasil kutempuh tadi pagi, waktu Eropa, adalah sebuah perjalanan yang cukup panjang. Untung saja aku tak sedikit pun merasakan jetlag. Jadi, sekarang, sore ini, aku benar-benar mau berjalan-jalan menikmati sebuah kota yang masih terasa asing di benakku ini.

*

          Aku berjalan gontai menuju lobby Motel. Aku sengaja memilih Motel, yang adalah sebuah penginapan menyerupai Hotel tetapi lebih kecil dan tidak memiliki fasilitas semewah Hotel. Maka harganya pun lebih murah untuk bisa menghemat di negeri orang ini. Motel biasa dijumpai di luar kota atau pinggiran kota. Tapi entah mengapa, Motel yang kutempati ini berdiri kokoh di tengah kota yang cukup besar ini. Dan hal ini sangat memudahkan para bagpacker atau orang yang ingin berhemat seperti aku, untuk bisa menikmati kota dengan biaya terbatas.

          Aku berniat untuk meminjam telepon dan mengabari keluargaku.

           “Permisi,” kataku dengan menggunakan bahasa setempat. Aku sendiri tidak terlalu mengerti bahasa setempat. Hanya saja aku sempat mempelajarinya, setidaknya kata-kata untuk memberi salam dan kata-kata dasar lainnya.

           “Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang resepsionis itu berkata dengan ramahnya sambil menyunggingkan senyum lebar. Ia sengaja menggunakan sebuah bahasa Internasional karena ia tahu betul kalau aku adalah seorang turis. Bahasa tersebut adalah satu-satunya bahasa di dunia yang disahkan sebagai bahasa Internasional. Bahasa yang harus dipelajari dan dimengerti semua orang di muka bumi ini. Sebuah bahasa yang sudah mulai dikenalkan pada kita semenjak kita duduk di bangku Sekolah Dasar. Setidaknya, begitu yang kuketahui yang terjadi di Negaraku. Itu semua agar dapat memudahkan komunikasi antar negara.

           “Aku boleh pinjam telepon?” Aku pun membalasnya dengan menggunakan bahasa Internasional. Untung nilai-nilaiku dalam mata pelajaran tersebut cukup baik.

           “Silahkan.” Ia tersenyum lagi sembari memberiku gagang telepon yang tidak berkabel.

           Aku meraihnya. Lalu langsung saja aku menekan beberapa tombol yang begitu akrab bagiku. Setelah pembicaraan yang cukup panjang, aku mengembalikan gagang telepon tersebut pada resepsionis yang ramah sekali itu.

           “Maaf, Anda tidak mau kemana-mana malam ini? Sepertinya hujan sudah redah. Mungkin Anda ingin mencari udara segar?” kata resepsionis tadi kemudian.

           “Tapi ini sudah malam. Aku pun tidak tahu harus kemana,” jawabku.

           “Karena ini akhir pekan, di perempatan jalan sana ada sebuah kafe yang akan menghadirkan band pada akhir pekan seperti ini. Kafe itu cukup ramai dan menyenangkan. Mungkin akan bisa menghibur Anda.” Resepsionis itu memberi usul.

           “Boleh lah. Kafe apa, ya? Di mana?” Aku mulai tertarik.

           “Di perempatan jalan sana. Tepat dua belokan dari Motel ini. Band di kota kami bagus-bagus. Anda pasti akan terhibur,” kata resepsionis yang tak bosan-bosannya tersenyum.

           “Baiklah, terima kasih.”

           Aku bergegas ke kamarku, berganti pakaian dengan pakaian yang cukup hangat karena di kota ini sekarang sedang musim gugur. Udaranya cukup dingin, apalagi sekarang sudah malam.

           Setelah semuanya siap, aku segera bergegas ke kafe yang diusulkan si resepsionis ramah plus murah senyum milik Motel ini. Tak lupa aku melambaikan tangan saat melewati meja resepsionis. Resepsionis tadi pun tersenyum lagi padaku.

*

           “Bebe?” tanya seseorang dengan bahasa yang tidak kumengerti. Tapi ia menyodorkan segelas minuman ke arahku. Jadi mungkin maksudnya untuk menawariku minum.

           “No, thanks,” balasku.

           Aku berjalan agak menjauh dari laki-laki dengan perawakan agak menakutkan menurutku tadi. Rambut kecoklatannya yang gondrong terurai bebas, serta jenggot dan kumis yang cukup menutupi wajahnya. Ia mengenakan celana jeans dengan kaos V neck berwarna putih dan sebuah jacket dari bahan jeans membalut hangat kaos V neck-nya. Dengan sepatu boots yang menutupi separuh kakiknya beserta dengan celana jeans yang Ia kenakan. Celana jeans-nya agak sobek-sobek. Mungkin model yang sedang bagus-bagusnya di sini atau entah apa.

           Sesaat kemudian, bnad yang akan menghibur malam itu telah naik ke atas panggung kecil yang disediakan di ujung kafe. Semua orang berjalan mendekati panggung lalu berdiri tepat di depan panggung. Aku mengikutinya.

           Band tersebut hanya terdiri dari 2 orang. Seorang perempuan yang memegang mic dan seorang laki-laki dengan gitar akustiknya. Mereka adalah sebuah band akustik. Band yang cukup baik menurutku setelah mereka sudah menyelesaikan lagu pertama mereka. Banyak orang yang memberi tepukan tangan termasuk aku. Menurutku, bagus sekali.

           Tapi, jika lebih diperhatikan lagi, lelaki yang sedang memegang gitar itu… iya! Dia lelaki yang menawariku minum tadi. Tapi apakah memang dia? Jadi seorang artis pun di sini bisa berkeliaran bebas sampai-sampai mau menawari penonton yang mungkin adalah fans-nya minum? Ah, aku tidak mengerti. Terserah saja. Yang penting aku cukup menikmati semuanya. Dan dia, laki-laki tadi, mempunyai kemampuan yang hebat dalam memainkan gitarnya. Juga dalam bidang menyanyi. Karena aku sempat mendengarnya melakukan backing vocal tadi.

           Setelah band akustik itu mengakhiri lagu terakhirnya, mereka turun dari panggung dan berlalu entah kemana. Aku pun merasa kalau semuanya sudah selesai. Maka aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan berjalan keluar.

           Saat aku tengah berdiri di depan pintu kafe, aku melihat mereka lagi, pemain band akustik tadi. Tapi sekarang, mereka sedang bertiga dengan seorang lelaki berbadan semampai. Sekilas kulihat laki-laki pemain gitar akustik tadi berbicara dengan lelaki bertubuh semampai. Mereka terlihat sedang melakukan sebuah pembicaraan serius. Lalu si gadis pergi dengan laki-laki bertubuh semampai, meninggalkan lelaki pemain gitar akustik.

           Aku tidak mau ambil pusing. Maka aku berjalan ke sebelah kiri menuju ke perempatan jalan yang terletak beberapa meter di samping kiriku.

           Aku begitu kedinginan. Gigi-gigiku tak henti-hentinya mengeluarkan bunyi gemelatuk. Kedua tanganku, aku letakkan bersilang di depan dada. Setelah sudah berada tepat di perempatan jalan, aku berniat untuk menyeberang kesebelah kanan menuju ke Motel. Tanpa sadar, aku berjalan sambil menunduk ke bawah.

            “Hei! Mau mati?!” teriak seseorang yang ternyata hampir saja menabrakku. Orang itu mengeluarkan separuh badannya dari truck warna merahnya dan memarahiku. Aku benar-benar kaget. Aku tidak berpikir kalau di jalanan sepi itu akan ada sebuah mobil lewat dan bahkan hampir menabrakku.

             “Maaf… maaf,” kataku dengan suara sedikit bergetar. Aku menyesalinya sambil terus berjalan keseberang jalan.

             “Kamu yang tadi , kan?” kata suara tadi. Sekarang ia telah menepikan mobilnya tepat di samping aku berdiri.

             “Oh, kamu pemain gitar itu, ya? Maafkan saya.” Kami sama-sama menggunakan bahasa Internasional sehingga bisa saling mengerti satu sama lain.

             “Masuk!” kata suara seraknya.

             Aku hanya menatapnya heran.

             “Ayo masuk! Aku akan antarkan kamu pulang. Tidak usah takut. Aku benar-benar orang baik,” katanya lagi, meyakinkanku.

             Aku masih agak ragu. Aku takut jika nanti orang dihadapanku ini membawaku pergi entah kemana.

             “Cepatlah! Ini sudah malam!” teriaknya lagi.

Perlahan, akupun menaiki truck-nya dan Ia benar-benar mengantarku ke Motel.

             “Aku Wayne Alvaro,” katanya setengah berteriak saat aku sudah mulai melangkah memasuki motel.

             Langkahku terhenti. “Syelia Myranka.” Aku berbalik menatapnya lalu menyebutkan namaku.

             “Syelia…” Ia menyebutkan lagi namaku yang cukup terdengar geli di telingaku.

*

            Sisa-sisa air hujan masih mengalir di permukaan truck merah milik Wayne. Hujan yang berhasil mengguyur pelan tadi, membuat mood-ku sedikit memburuk. Masih saja hal semacam itu mengganggu perjalananku. Mengganggu kesenanganku. Untungnya, bukan hujan deras, melainkan hanya titik demi titik rintikan air hujan.

             “Jadi, kamu ke sini untuk menonton pertandingan sepakbola? It was surprised, man!”
             “Iya. Kamu kaget orang macam aku suka menonton sepak bola, kan? Tapi aku benar-benar suka. Kalau kamu nggak mau menemaniku, ya sudah. Nggak usah tertawa.”

            Kami sedang berada di atas truck merah milik Wayne. Setelah malam itu, Wayne-lah yang menjadi temanku di sini. Semakin hari, aku semakin yakin kalau Wayne adalah orang yang baik. Ia bahkan menghormatiku sebagai perempuan. Aku cukup senang mendapatkan seorang teman seperti itu di kota yang asing ini.

             “No… Sebenarnya, itu club bola favorit aku juga. Aku mau, kok, nonton sama kamu,”

             “Gitu, dong!”

             “Untung ada sebuah bahasa Internasional, ya. Kalau nggak ada, entah bagimana kita dapat berkomunikasi,” kata Wayne.

             “Iya. Aku sangat senang mendapatkan teman seperti kamu.” Aku tersenyum.

             Aku bersandar di jok trucj milik Wayne sembari menarik nafas perlahan.

              “Wayne, aku boleh bertanya?” tanyaku ragu.

              “Silahkan saja,” jawabnya tanpa memalingkan tatapan ke arahku. Ia hanya memperhatikan jalanan berbatu di depan. Ia sedang menyetir trucj-nya.

              “Aku sempat melihat kamu bersama gadis… maksudku teman se-band-mu dan seorang laki-laki malam itu di samping kafe. Sepertinya kamu memarahi laki-laki itu sebelum membiarkan mereka pergi. Mereka siapa?” Sesungguhnya aku merasa tidak enak jika harus menanyakan hal ini. Aku seperti orang yang ikut campur dengan urusan orang lain saja. “Tapi, Wayne, sesungguhnya kamu nggak perlu menjawabnya!” Aku benar-benar tidak memerlukan jawaban itu.

              “Sebuah pertanyaan, bukannya diutarakan untuk sebuah jawaban?” kata Wayne santai.

              Aku hanya bisa tersenyum.

              “Okay, gadis itu adalah adikku, Carly. Aku nggak suka melihatnya berhubungan dengan Sergio, lelaki itu. Menurutku, Sergio bukanlah orang yang baik. Dia selalu memulangkan adikku larut malam. Aku benar-benar nggak bisa tidur kalau Carly belum pulang.” Wayne terhenti sejenak. Lalu melanjutkannya, “Setelah kepergian ayahku setahun yang lalu, aku merasa, melindungi mama dan adik perempuanku itu sudah menjadi tugasku. Jadi, aku mau laki-laki yang mendampingi adikku adalah seorang laki-laki yang baik,” jelas Wayne.

              “Oh, begitu. Terima kasih, Wayne.” Entah mengapa, kata 'terima' dan 'kasih'-lah yang keluar dari mulutku. Mungkin karena orang asing sepertiku tidak pantas untuk menanyakan hal sepribadi itu.

             Wayne tidak berkata apa-apa lagi. Rasa lelah terpancar dari raut wajahnya. Raut wajah yang menurutku mustahil memperlihatkan hal semacam itu. Tapi aku mengerti. Aku mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi kota seharian penuh. Berlarian kesana-kemari. Tentu hal itu sangat melelahkan.

               “Aku capek banget, nih, seharian jalan. Aku nginap aja, ya.”

               “Terserah kamu. Tapi nggak tahu, deh, kalau masih ada kamar kosong. Ini Motel kecil, Wayne.”

               “Kan ada kamar kamu,” katanya santai.

               “Itu nggak boleh. Di Negaraku, hal semacam itu nggak diperbolehkan. Kecuali kita sudah menikah.”

               “Tapi semuanya biasa saja di sini. Lagipula, kita hanya tidur. Aku bisa tidur di sofa.”

               “Tetap nggak boleh, Wayne. Kamu ngerti, ya. Sekarang belum terlalu malam untuk kamu pulang. Jadi, sebaiknya kamu pulang saja.”

               “Okay…” Wayne berjalan dengan malasnya menuju ke truck yang Ia parkir tepat di depan Motel. Aku tersenyum dan sangat senang dengan semua rasa pengertian yang ditunjukkan Wayne.

*

               “Akhirnya, Wayne! Akhirnya! Akhirnya aku bisa nonton mereka langsung! Yang tadi itu keren banget, Wayne. Keren!!” Aku setengah berteriak sembari mengguncang-guncangkan tubuh Wayne yang sedang berjalan di sampingku.

               “Iya, apalagi tendangan bebas yang akhirnya jadi goal tadi, kan?!” Wayne tidak kalah heboh.

               “Iya! Ya ampuuun, ganteng-ganteng banget, ya, mereka kalau dilihat langsung. Makasih banget udah nyariin tempat paling depan.” Aku menatap Wayne lekat dengan senyuman lebar.

               “Iya. Aku punya temen, kok, yang jaga loket penjualan tiket. Jadi, kemarin aku telepon dia dulu buat booking tempat.”

               “Pokoknya makasih banget, deh! Aku nggak rugi jadinya dengan semua pengorbanan aku buat nonton mereka langsung.”

               “Sekarang mau kemana? Makan aja, yuk!” tanya Wayne.

               "Okay! Makanan asli sini, yaaa.”

              Truck Wayne pun melaju kencang. Bola-bolanya yang lumayan besar membelah jalanan beraspal di Ibukota yang cukup besar ini. Angin musim gugur terasa menusuk-nusuk ke dalam tubuh. Tapi cukup menyenangkan berada di truck ini.

              Aku sedang duduk sendirian di sebuah kafe yang menjual makanan-makanan khas di Negara ini. Iya, aku sedang duduk sendirian. Tadi Wayne bilang, dia ada urusan sebentar dan akan kembali secepatnya. Aku sendiri dimintanya untuk menunggu di sini sampai Ia kembali. Aku sangat merasa tidak nyaman berada di sini sendirian seperti ini. Seperti orang asing. Walaupun kenyataannya memang begitu. Tapi kemana Wayne? Kenapa dia lama sekali?

              Detik berganti menit. Menit berganti jam. Tapi Wayne tak kunjung datang. Kemana dia? Apakah dia sedang mempermainkanku setelah rasa nyaman dan aman yang Ia berikan kepadaku? Aku benar-benar merasa dilindungi saat sedang bersama Wayne. Aku pun merasa sangat nyaman berada di sisinya. Hatinya, ternyata tidak se-sangar tubuhnya yang bertato itu. Tapi sekarang, Ia menimbulkan rasa kecewa di kedalaman hatiku. Sebenarnya kemana dia? Mempermainkanku?

               “Syelia…” Nafas Wayne tidak beraturan. Sepertinya dia berlari dari luar kafe. Aku cukup khawatir melihatnya.

               “Wayne! Dari mana saja kamu?!”

               Wayne berlutut di samping meja dan mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Beberapa tangkai bunga yang benar-benar cantik. Dengan tergesah-gesah, Wayne mengutarakan semuanya. Mengutarakan perasaannya padaku. Aku hanya bisa melihat dan mendengarkannya dalam diam. Aku hanya memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Merekamnya dengan rapi di dalam kepalaku. Ia terlihat sedang bersungguh-sungguh.

               Akupun menerimanya. Aku menerima Wayne, seorang asing yang aku temui hanya beberapa hari yang lalu di sebuah Negara yang asing ini, yang telah memberikanku kenyamanan dan perlindungan yang kunikmati bagai candu. Aku diluluhkan oleh semua perlakuannya. Oleh semua tingkah laku menyenangkan yang Ia miliki. Juga oleh semua pengertian yang Ia tunjukkan padaku. Aku menerimanya menjadi seorang teman yang lebih khusus lagi.

*
                “Aku nggak bisa menunda keberangkatan, Wayne. Aku sudah membeli tiket pulang-pergi. Dan hari ini, aku harus kembali. Seminggu sudah berlalu. Terima kasih untuk semuanya. Karena kamu, aku rasanya nyaman berada di sini. Terima kasih, untuk kota yang indah ini. Terima kasih untuk tujuh hari yang sangat menyenangkan, Wayne.” Aku tidak melepas jemari Wayne sedikit pun sejak tadi. Aku belum sanggup untuk melakukannya. Wayne pun begitu. Seakan jari-jemari kami sudah menempel dan tidak mau dipisahkan lagi. Kami saling bergenggaman erat. Erat sekali. Aku benar-benar belum mau berpisah dengan Wayne. Terlalu sedikit waktu yang kami punya untuk saling mengenal satu sama lain. Aku butuh waktu lebih untuk terus bersama-sama Wayne.

                Akhirnya tiba waktunya. 10 menit lagi, pesawat yang akan membawaku kembali ke kampung halamanku akan lepas landas. 10 menit lagi, aku dan Wayne akan berpisah.

                Wayne merangkul tubuhku erat. Erat sekali. Nafasku tercekat, tapi tetap menikmatinya. Dekapan hangat Wayne, aroma tubuhnya, aku sudah mulai terbiasa dengan semua itu. Akupun tak kalah erat merangkulnya. Lalu Wayne mengecup keningku. Wayne benar-benar sudah mengerti batasan-batasan yang harus Ia patuhi jika berhubungan dengan orang Asia sepertiku. Ia mematuhinya dengan baik. Ia begitu menghormati dan memperlakukanku sebaik-baiknya seorang perempuan.

                 Akhirnya, jari-jemari kami mulai terlepas. Aku mulai berjalan memasuki ruang tunggu bandara. Wayne tidak boleh masuk lebih dalam lagi. Maka aku dan Wayne benar-benar harus berpisah sekarang. Aku mentapnya, Ia menatapku. Mata kami sedang berperang dalam ketidakberdayaan.

                  “I'm gonna miss you so,” kata Wayne dengan suara bergetar menahan tangis.

                  “Aku juga, Wayne.” Berbeda denganku yang sudah menangis terseduh-seduh sejak tadi.

                  “Terus kirimi aku e-mail

                  “Pasti! Kamu juga.”

*

                 Sudah lebih dari sebulan aku di sini, di tanah kelahiranku. Aku dan Wayne pun tak henti-hentinya saling berkirim e-mail. Kami juga sering berbincang melalui sebuah jejaring sosial. Hubungan kami benar-benar masih sangat baik. Aku pikir, setelah kita tidak bertemu lagi, Wayne akan segera melupakanku. Tapi ternyata tidak. Ia mengirimiku e-mail setiap hari tanpa absent. Aku pun sangat senang. Rasa di dada ini masih terus membuncah saat mengingat Wayne. Mengingat semua yang telah kita lalui dalam tawa. Aku benar-benar telah luluh dalam pelukannya.

                 “Syel, sampai kapan lagi kamu mau membiarkan aku menunggu? Laki-laki itu. Wayne. Dia tidak mungkin seserius itu padamu,” kata Raga.

                 Raga adalah satu-satunya orang yang tanpa henti mengemis cintaku. Ia adalah teman sekelasku di kampus. Sejak awal kita bertemu, dia sudah sering menunjukkan perasaannya terhadapku. Tapi aku benar-benar tidak menyukainya. Aku harus bagaimana? Aku juga tidak mau membuatnya terus tersakiti. Tapi dia pun tidak pernah mau untuk menyerah.

                  “Tolong mengerti, Ga. Aku nggak mungkin menjalin hubungan sama kamu. Tolong jangan buat aku merasa sulit.”

                  "Tapi kenapa, Syel? Karena laki-laki itu? Kalian hanya saling mengenal nggak lebih dari seminggu!”

                  "Tapi aku benar-benar mencintainya. Aku pun nggak tahu kenapa. Aku hanya… menyayanginya begitu saja.”

                  "Omong kosong, Syelia!”

*

                 Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Aku masih saling berkirim e-mail dengan Wayne. Tapi, lama kelamaan, hubungan kami tidak sebaik dulu. Sangat lama waktu yang berlalu saat aku menunggu e-mail balasan dari Wayne. Kata-katanya pun tidak sebanyak dahulu.

                 Bulan akhirnya berganti tahun. Hari ini tepat dua tahun setelah pertemuanku dengan Wayne yang hanya berlangsung selama seminggu. Sekarang, Wayne benar-benar sudah tidak mengirimiku e-mail. Sudah dua bulan ini Wayne tidak mengirimiku e-mail sama sekali. Bahkan Wayne juga tidak membalas e-mail-ku. Kemana Wayne?

                 Seiring berjalannya waktu juga, Raga masih belum menyerah. Ia masih terus mendekatiku. Apa sudah saatnya sekarang aku melupakan Wayne? Dan mencoba mencintai laki-laki lain? Raga?

                 Seharian ini hanya aku habiskan sambil mempelototi layar komputer di kamarku. Aku hanya sibuk menunggu e-mail yang tak kunjung datang dari Wayne. Apa Wayne sudah mendapatkan penggantiku? Apa Wayne sudah benar-benar melupakanku? Atau bahkan, tak pernah menganggap serius hubungan ini?

                 Berbulan-bulan aku meyakinkan orang tuaku mengenai Wayne. Aku bilang Wayne baik. Wayne berbeda. Wayne tidak mungkin melupakan janjinya untuk datang kemari mengunjungiku suatu saat. Orang tuaku, sebelum mereka mulai lelah menasehatiku, berpikiran sama persis dengan Raga. Mereka bilang aku hanya menjadi kesenangannya semata. Kesenangnya untuk sementara waktu. Tak kusangka akan ada saatnya, hari ini, aku berpikiran sama dengan Raga dan kedua orang tuaku.

                 Sekarang aku benar-benar marah. Marah pada keadaan yang mempermainkanku. Marah pada Wayne. Mungkin sekarang aku sedang diselimuti perasaan marah. Tapi, aku akan pergi menemui Raga, dan menerima cintanya. Aku tidak peduli apa namanya tindakan yang aku ambil sekarang. Mempermainkan orang lain? Entahlah. Aku tidak peduli.

                 Aku tidak mau berlarut-larut dalam kekalutanku. Aku tidak mau terus terpikirkan Wayne. Aku mau pergi dari bayang-bayang Wayne. Aku mau mengganti semuanya dengan bayang-bayang orang lain. Raga mungkin.

                 Dengan emosi yang menyelimutiku, aku membuka pintu rumah sehingga sedikit mengeluarkan bunyi dan…

                 Aku terpanah. Aku melemah. Aku terharu. Aku bahagia. Apa yang ada di depan mataku sekarang. Wayne? Wayneku-kah?

                 Dia berdiri tepat di hadapankuku dengan lengan kirinya yang menggantung. Mungkin ingin mengetuk pintu tadi. Penampilannya sedikit berubah. Rambut gondrongnya telah dipangkas. Hanya menyisahkan jenggot dan kumis tipis di sekitar bibirnya. Ia mengenakan celana jeans seperti biasa, tetapi tidak dengan sobekan-sobekan itu. Ia mengenakan kaos dan jaket jeans. Sekilas, penampilannya seperti saat pertama kali kita bertemu. Tetapi, lebih baik.

                  "Benarkah kamu Wayne?” tanyaku dengan suara yang melemah.

                  Ia hanya tersenyum. Senyuman yang benar-benar akrab di benakku. Senyuman yang tak sedikit pun hilang termakan waktu. Senyuman yang begitu saja telah menjadi sahabat karibku.

                   “Maafkan aku untuk tidak mengirimimu e-mail lagi. Aku sibuk tour ke kafe-kafe untuk mengumpulkan uang. Untuk bisa berada di sini sekarang.”

                   "Wayne…”

                   "Di hari perpisahan kita, aku bertekad untuk menabung semua hasil kerjaku agar aku bisa ke sini. Aku pun menyimpan dengan baik alamat lengkap yang sempat kamu berikan waktu itu.”

                   “Aku pikir, kamu sudah melupakanku, Wayne.”

                   “Aku benar-benar serius denganmu. Aku juga nggak tahu kenapa aku sangat menyayangimu. Aku menyayangimu begitu saja…”

                  Tanpa berkata-kata lagi, aku merangkul tubuh besar Wayne. Aku merangkulnya sekuat tenagaku. Ia pun melakukan hal yang sama. Aku benar-benar sangat merindukannya.

                    “Bagaimana penampilan baruku? Semoga orang tuamu menyukainya, ya.”

                    "Semua ini kamu lakukan untuk hari ini, Wayne? Aku benar-benar mencintaimu.”

                   Kami saling merangkul lagi. Entah rangkulan seperti apa yang akan meredahkan kerinduan yang mendalam di dalam hatiku dan hatinya. Aku bersyukur ada sebuah bahasa yang bisa kami sama-sama mengerti. Aku bersyukur karena ada sebuah bahasa yang menyatukan kami. Wayne-ku telah datang.

                     "Aku mengagumi setiap hal yang kamu lakukan. Mengaguminya bagai candu. Sulit sekali hari-hari yang kulewati setelah perpisahan kita. Hal yang mustahil, mengingat perkenalan yang sesingkat itu. Tapi hal itu benar-benar terjadi.” Wayne berkata dalam pelukku.

                     "Percaya atau tidak, aku pun merasakan hal yang sama,” balasku.

                     “Semua yang ada padamu begitu luar biasa bagiku. Hanya satu hal yang cukup mengangguku.” Wayne tertawa kecil.

                     “Apa?!” tanyaku kaget. Secara refleks , aku melepas pelukan Wayne.

                     “Semua barang milikmu yang bertuliskan “SyMy”. Hal bodoh macam apa itu, Syel?...”
                     Wayne tertawa lepas. Aku pun tersipu malu dengan kebiasaan bodohku itu.


(((CERPEN)))

Selasa, 21 Januari 2014

Pertemuan

      “Makasih, ya, kak,” kataku sembari sedikit memasukkan kepala ke jendela mobil dengan kaca yang terbuka lebar.

      “Jangan pulang malem-malem, ya. Kalau mau dijemput, telefon aja,” jawab wanita berparas cantik itu dengan tatapan datar.

      Ia memang memiliki paras yang cantik merona. Namun sejak hari itu, sekitar dua tahun yang lalu, semenjak kejadian itu, ia tak lagi sering memperlihatkan senyuman terindahnya. Wajahnya pun lebih sering terlihat murung. Intonasi suaranya, tidak seceria dahulu. Kejadian itu telah mengubah semuanya. Kejadian itu telah menyembunyikan dirinya yang sebenarnya. Seorang yang periang, pemalu tetapi menggemaskan, selalu tersenyum, dan merupakan salah satu penyemangat hidupku. Semua telah direnggut. Tidak ada lagi seorang yang seperti itu. Semuanya tertutupi oleh trauma kelam di masa lalu.

      “Sip, kak.” Aku tersenyum menatapnya.

      Kini, selalu tersenyum sudah menjadi tugasku. Aku pun harus menjadi seorang yang periang. Semuanya kulakukan, agar kakak bisa melihat seperti apa dirinya dulu. Dirinya yang luar biasa. Tidak seperti sekarang ini. Terlalu banyak diam, suka menghayal, juga tak peka lagi terhadap sekitar. Aku sangat sedih dengan semua itu. Apalagi, dia adalah kakakku satu-satunya. Tak perlu ditanya, aku sangat menyayanginya.

      Setelah mobil kakak berlalu, aku berjalan memasuki sebuah mol terbesar di kota ini, guna untuk bertemu dengan salah seorang temanku.

      Aku berjalan agak cepat sambil sesekali memalingkan wajah ke segala arah. Sehingga aku tertuju pada satu titik yang berjalan dari arah berlawanan. Ia sedang menelepon. Ia juga tidak terlalu mempedulikan sekitarnya. Ia hanya terus berbicara tanpa henti dengan seseorang di ujung telefon yang sedang mendengarkannya. Sampai pada akhirnya ia membelokkan tatapan lurusnya ke arahku. Matanya… begitu indah.

      “Hei, maaf, ya, telat,” kataku setelah sudah menduduki bangku tepat di depan temanku yang juga sedang duduk.

      “Nggak apa-apa kok, Rain. Mau pesen apa?” katanya sembari menyodorkanku sebuah daftar menu.

      “Males, ah. Bentar lagi, deh. Aku selesain makalah kita dulu. Biar tinggal kamu edit nanti,” kataku sembari mengeluarkan sebuah notebook dari dalam tasku.

      “Okay. Udah sampe mana, sih?”

      “Ini tinggal BAB III-nya. Bentar, ya,” kataku sambil dengan seriusnya menekan-nekan keyboard pada notebook dindepanku.

*

      “Nonton sendiri, deh. Si Feisha juga pake ada acara,” kataku menggerutu dalam hati.

      Aku sedang berdiri di dalam sebuah bioskop. Aku ingin sekali menonton sebuah film. Sampai akhirnya aku membuat janji dengan Feisha, temanku. Akan tetapi, saat aku baru saja memasuki gerbang bioskop, Feisha malah meneleponku dan membatalkan semuanya. Sedangkan aku tidak mungkin lagi membatalkannya. Ini salah satu film yang benar-benar kutunggu setahun belakangan.

      Mengajak kakak? Tidak mungkin. Semenjak kejadian itu, kakak tidak suka lagi pergi keluar dan bersenang-senang. Hanya duduk di rumah dan mematuhi semua permintaan mama. Saat kakak mengantarku saja beberapa hari silam, semua kakak lakukan karena permintaan mama.

      Temanku yang lainnya? Aku seharusnya membuat janji lebih awal. Maka kuputuskan untuk menontonnya seorang diri.

      Entah berapa banyak AC yang ada di dalam bioskop ini, membuat tubuhku menggigil kedinginan. Aku memang tidak terbiasa dengan alat pendingin ini. Aku lebih terbiasa dengan sebuah penyejuk alami yang kita sebut ‘angin’. Menurutku itu lebih menyejukkan.

      Aku terus saja mengepal-ngepalkan kedua tanganku hingga menjadi satu. Entah sudah berapa jam aku duduk di sebuah sofa dengan warna gelap tetapi cukup nyaman ini.

      “Mbak, film ini sudah dimulai, ya?” tanya seorang pria pada seorang karyawati. Mereka berdua berdiri tepat di depanku. Maka peristiwa ini kujadikan saja tontonan. Dari pada aku harus duduk diam, dan tanpa berbuat apa-apa. Aku memeperhatikan setiap detail yang mereka percakapkan.

      “Oh, sudah dimulai sekitar setengah jam yang lalu, Mas. Tapi, kalau Mas tetap mau masuk, tidak apa-apa. Silahkan masuk saja,” kata seorang karyawati dengan begitu ramahnya sambil sesekali mengeluarkan senyum tipis tapi manis miliknya.

      Laki-laki itu terlihat agak sedikit kecewa lalu terdiam. Mbak-mbak karyawatipun sudah pergi meniggalkannya sejak tadi. Tapi belum sedikitpun lelaki itu beranjak dari tempat ia berdiri.

      Satu hal yang membuatku terus memperhatikan wajah laki-laki itu. Wajahnya begitu familiar di mataku. Maka terus saja kutatap wajahnya yang tertunduk menghadap lantai.

      Tapi menurutku, Ia sangat mendramatisir keadaan. Baru juga setengah jam berlalu. Segera masuk saja kalalu masih mau menonton dan tidak mau lebih banyak ketinggalan cerita filmnya.

      Perlahan ia mengangkat wajahnya lalu memalingkannya kesamping kiri, tepat dimana aku duduk. Ya Tuhan, mata itu! Itu mata indah yang kulihat kemarin. Entah mengapa, mata sayunya yang mungkin menurut orang lain biasa saja, mampu membuat jantungku berdetak kencang. Sekali lagi, ia menatap mataku. Aku menatap matanya. Kami saling bertatapan.

      Kenapa dalam beberapa hari terakhir ini aku selalu dipertemukan dengannya? Ah, tidak. Pasti tidak ada apa-apa. Ini hanyalah sebuah hal kebetulan. Bukan salahnya juga kan berada di mol waktu itu, dan berada di sini, di bioskop ini sekarang? Ini memang kota besar. Tetapi tidak sebesar Ibukota. Jika sekarang ia berada di sini, pasti memang karena kemauannya. Karena hal itupun yang aku rasakan sekarang. Aku berada disini, karena aku memang ingin datang kemari.

      Lagipula, jika pertemuan-pertemuan itu disengaja oleh Tuhan, kenapa Tuhan tidak membiarkan kami berdua saling menyebutkan nama satu sama lain? Hanya membiarkan semuanya berlalu begitu saja tanpa arti. Tanpa bekas. Bahkan sekarang, setelah saling tatap tadi, dia sudah berlalu dari pandanganku. Semua terjadi begitu saja.

*

      Aku sedang berada di sebuah toko buku. Aku memang sangat suka sekali membaca. Apa saja, aku suka membacanya. Datang ke toko bukupun sudah menjadi sebuah rutinitas bagiku. Aku seperti sudah menjadwalkan harinya. Setiap hari minggu, aku pasti akan berkunjung ke sebuah toko buku. Tujuannya sendiri tentu saja untuk melihat-lihat dan membeli jika ada yang menarik hati.

      Dengan seksama, aku membolik-balik setiap buku yang mencuri perhatianku. Aku membaca sinopsisnya, melihat bagusnya cover, serta gaya penulisannya. Jika menarik bagiku, aku akan langsung membelinya dan terus merasa penasaran, sampai akhirnya aku sudah berada di rumah dan bersiap-siap untuk membacanya. Untuk mengetahui kisah macam apa yang tertulis rapi di dalamnya. Di atas kertas demi kertas yang dicetak dengan tinta begitu rapinya.

      "Brak!!!" Seseorang menabrakku. Sebuah buku yang kupegangpun terjatuh ke lantai.

      “Ini bukumu. Maaf, ya,” katanya sembari memberikan buku yang terjatuh tadi padaku.

      Tanpa berkata apapun, aku mengambil buku itu dari genggamannya. Iya tersenyum tipis padaku. Tapi, mata itu! Mata itu lagi! Bahkan sekarang, dari jarak yang semakin dekat. Aku yakin sekali, dialah pemilik mata itu. Mata yang membuatku jatuh hati.

      Setelah buku itu sudah berada digenggamanku, laki-laki yang menabrakku tadi langsung saja berjalan menjauh dariku. Ia seperti tidak memperdulikan apapun.

      Kita sudah bertemu beberapa kali. Tidakkah kamu mengingatku? Batinku. Aku terus menatapnya yang berjalan gontai ke rak buku sebelah.

      Aku terdiam, dan terus menatapnya tanpa henti. Ini sudah ketiga kalinya. Bahkan kali ini, ia berbicara padaku. Kami telah melakukan sebuah perbincangan singkat tadi. Aku tidak mau terus diam. Mungkin benar kalau Tuhan-lah yang sengaja mempertemukan kami dalam beberapa pertemuan yang hanya melibatkan kedua pasang bola mata kami.

      Aku berjalan mendekatinya. Aku tidak mau membiarkan pertemuan-pertemuan itu hanya berlalu begitu saja. Ini sudah kesekian kalinya. Sekarang aku benar-benar yakin kalau semua ini terjadi berkat campur tangan Tuhan.

      “Hey,” sapaku.

      “Hey,” balas laki-laki itu, bingung.

      “Apa kamu nggak sadar? Ini sudah kesekian kalinya kita bertemu,” jelasku.

      “Benarkah?”

      “Iya. Pertama, di mol saat kamu sedang menelepon. Kedua, di bioskop dua hari yang lalu. Dan hari ini, kita bertemu lagi disini, di toko buku ini.”

      Dia diam. Dia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Bola matanya terpendar kemana-mana. Ia benar-benar sedang berusaha keras untuk mengingat. Lama sekali. Lama sekali ia membiarkan aku menunggu. Sampai aku merasa menyerah karena mungkin dia memang tidak mengingatku sama sekali. Mungkin hanya aku saja yang memperhatikannya.

      “Mungkin benar. Muka kamu agak familiar, sih. Iya, mungkin benar.”

      “Aku Raina Shinta. Kamu sendiri?” Aku mengulurkan tangan kananku untuk dijabatnya.

      “Galaxy. Shan Galaxy.” Ia menjabat erat jemariku.

      “Kamu sedirian aja?” tanyaku.

      “Iya. Kamu juga? Suka baca buku, ya? Atau jangan-jangan kamu adalah seorang penulis?” Dia, yang katanya bernama Galaxy itu, menyerangku dengan cukup banyak pertanyaan. Sampai-sampai aku tidak tahu harus mulai menjawabnya dari mana.

      Aku sedikit tersenyum lalu menjawab, “Pertama, iya, aku sendiri kesini. Kedua, aku memang sangat suka sekali membaca buku. Tapi aku bukanlah seorang penulis. Hanya suka membacanya saja.” Akupun mengakhiri kalimatku dengan sebuah senyuman tipis. Aku tidak habis pikir, lelaki yang terlihat pendiam sepertinya, begitu saja melesakkan beberapa pertanyaan dengan cepatnya padaku.

      “Maaf, ya. Mungkin pertanyaannya terlalu banyak.” Diapun tersenyum.

      “Kamu suka buku jenis apa?” Aku bertanya lagi.

      “Aku suka membaca buku biografi tokoh-tokoh dunia. Aku tidak mempedulikan latar belakang tokoh-tokoh itu, namun aku yakin, mereka sangat berpengaruh bagi dunia ini. Maka mereka bisa terkenal di zaman ini sekalipun. Kamu?”

      “Kita berbeda. Aku lebih suka membaca novel atau bacaan santai lainnya.”

      Ia tersenyum sekilas, lalu, "Setelah ini, kita pergi makan, yuk. Kata kamu, kita sudah kesekian kalinya bertemu. Hal itu harus dirayakan, kan?”

      “Hal semacam itu harus dirayakan?” Aku sedikit merasa lucu sampai harus tertawa kecil.

      “Aku adalah seseorang yang sangat menghargai setiap hal. Buat aku, setiap hal itu adalah berkah yang diberikan Tuhan. Hal apapun akan aku hargai. Sekalipun hal buruk atau musibah yang terjadi. Tapi, pertemuan kita bukanlah sebuah musibah, kan?”

      “Baiklah, aku setuju.”

*

      “Kakak! Akhirnya aku bisa melihat lagi kakakku ini tersenyum di depan cermin sambil memoles tipis wajahnya dengan bedak. Akhirnya aku bisa melihat senyuman kakak lagi.” Aku merangkul kakak dari belakang.

      “Jangan berlebihan, ah. Kakak hanya sadar kalau kakak tidak seharusnya terus mengingat hal itu. Kakak iri dengan kamu. Kamu yang selalu tersenyum manis terhadap kehidupan ini. Pada kehidupan yang juga punya sisi buruknya. Sisi buruk yang sudah pernah berhasil kakak rasakan. Yaitu mengambil seseorang yang telah menjadi teman hidup kakak selama lebih dari 7 tahun. Yang menyayangi kakak tanpa henti walau cinta kami mungkin sudah usang dimakan waktu.” Kak Raisa Sylva, begitulah namanya, bercerita sambil terus mengelus kepalaku. Aku sedang berjongkok menghadapnya, menyandarkan pipiku pada kedua kakinya.

      “Syukurlah, kak. Raina sangat senang mendengarnya. Raina sangat merindukan kak Raisa yang seperti ini.” Aku tersenyum tulus menatap kak Raisa.

      “Tapi, kamu mau kemana, Rain? Kok sudah rapi begitu.”

      “Seperti biasa, kak. Ke toko buku.”

      “Oh, kakak antar, ya?”

      “Enggak usah, kak. Kakak di rumah aja, istirahat. Aku sudah telepon taksi, kok.”

      Setelah aku mendengar suara klakson sebuah taksi, aku beranjak berdiri, menciumi kedua pipi kakakku dan bergegas menuju taksi.

      Taksipun melaju ke sebuah toko buku favoritku. Sebuah toko buku yang menjadi saksi aku dan Galaxy saling mengucap nama satu sama lain, sembari berjabat tangan. Sebuah toko buku yang menjadi saksi bisu tatapan tajam antara kedua pasang bola mata kami. Sebuah toko buku yang mengakrabkan kami berdua. Bahkan, sebuah toko buku yang mengajak kami berdua untuk datang ke sana lagi hari ini. Tapi bukan karena sebuah pertemuan tak terduga lagi, melainkan karena kami memang sudah membuat janji untuk bertemu disana.

      Menurutnya, mempunyai seorang teman dengan hobi yang sama adalah menguntungkan. Kami bisa memberi informasi satu sama lain. Aku bisa menceritakan kisah-kisah romantic yang berhasil terekam kepalaku dengan baik padanya, juga dia bisa membagi semua pengetahuan mengenai buku-buku biografi yang ia baca. Atau kami berdua bisa juga saling bertukar, saling meminjamkan buku milik kami. Intinya, kami bisa saling berbagi informasi.

      Tapi perlakuannya padaku masih sangatlah biasa. Padahal kita sudah saling mengenal dan menjalin hubungan pertemanan dalam beberapa bulan terakhir ini. Apakah ia tak mempunyai perasaan lebih sedikitpun terhadapku? Apakah aku yang punya perasaan semacam itu terhadapnya? Entahlah. Aku hanya ingin terus, terus, dan terus bersamanya. Hanya bersamanya.

      Sekarang, Galaxy sudah seperti rumahku. Aku menempel bersama dengan bintang-bintang, mars, venus, jupiter, bahkan bumi. Aku telah menjadi sesuatu yang baru di sana. Akupun bisa melihat semua yang menjadi penghuni galaxy dengan begitu jelasnya. Berbinar-binar. Betapa indahnya.

      Hari ini, saat ini, sekarang, aku semakin yakin kalau Tuhan dengan sengaja memberikan beberapa pertemuan itu untukku dan Galaxy. Aku begitu terbuai, begitu terlena, dengan semua ini.

      Bahkan setelah lebih jauh mengenalnya, mengenal dirinya, mengenal Galaxy, aku semakin dibuatnya jatuh cinta. Lelaki yang pada awalnya aku pikir seorang yang pendiam, ternyata tidak sependiam itu. Bahkan sangat menyenangkan jika diajak mengobrol.

      Tapi, dia memperlakukanku sangat biasa. Seperti memperlakukan seorang teman. Tidak ada sedikitpun hal spesial atau semacamnya. Tapi mungkin saja dia masih malu-malu atau masih ingin meyakinkan perasaannya. Mungkin juga, aku hanya perlu menunggu sedikit lagi untuk sesuatu yang indah itu. Sesuatu yang aku tunggu-tunggu itu. Iya, mungkin sedikit lagi. Mungkin Galaxy masih berusaha untuk meyakinkan perasaannya. Lalu suatu saat nanti, Galaxy akan menyatakannya padaku, dan kami berdua hidup bahagia selamanya.

*

      “Galaxy!!” teriakku tidak percaya.

      “Raina!!” Galaxy berteriak sama kuatnya denganku.

      Aku merangkulnya begitu saja. Galaxy terdiam.

      “Ternyata kita satu kampus, ya? Semester berapa kamu?” tanya Galaxy.

      “Iya! Aku semester 4. Kamu?”

      “Semester 8. Sebentar lagi lulus. Amin, amin, amin.” Galaxy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan miliknya, sambil mengamini kelulusannya.

      “Senior, dong? Ciyeeeeeh.” Aku menggoda Galaxy.

      Galaxy tertawa renyah, lalu, “Aku nggak nyangka, lho,  kita satu kampus,” kata Galaxy di sela-sela tawanya.

      “Apalagi aku, Gal!”

      “Kantin, yuk! Aku baru beli buku. Tapi aku beli buku genre kamu. Yang cinta-cintaan gitu deh,” katanya sembari berjalan menuju kantin. Akupun berjalan di sampingnya.

      “Ceritanya udah pindah genre, nih?”

      “Enggak-lah. Tapi bikin sebuah variasi itu, bagus, kan?”

      “Setuju, deh, sama kamu.” Kami tertawa senang.

      Tak kusangka, bahkan Tuhan memberikan kami tujuan yang sama. Kami berkuliah di jurusan yang sama, jurusan arsitektur. Itu artinya, kami ingin menjadi sesuatu yang sama. Kami suka hal yang sama. Kami ingin bekerja atau menjadi pekerja di bidang yang sama. Betapa indah rencana yang Tuhan berikan ini…

*

      “Gal, kok nggak bilang-bilang, sih, mau kesini?” Aku kaget melihat Galaxy yang begitu saja sudah berada di rumahku. Berdiri di beranda rumahku dan berbincang dengan kak Raisa.

      Mereka hanya menatapku dengan tatapan kaget tanpa bersuara. Kami hanya saling tatap-menatap dalam beberapa saat.

      “Kamu kenal Galaxy, dek?” tanya kak Raisa.

      Aku terdiam sejenak. Berpikir.

      “Oh, jadi kalian sudah saling kenal? Aku nggak perlu kenalin lagi, dong,” kataku.

      “Kalian kakak-beradik?” tanya Galaxy yang akhirnya membuka suara setelah beberapa saat terdiam.

      Aku hanya mengangguk penuh semangat.

      “Bagus bnaget, dong! Dia teman baik aku lho, Rais.” Galaxy merangkulku dengan tangan kanannya.

      Kak Raisa hanya tersenyum manis. Manis sekali. Seakan kakakku telah benar-benar kembali. Kembali dari perang melawan rasa traumanya. Perang melawan masa lalu.

      Sekitar 2 tahun yang lalu, kak Raisa sedang senang-senangnya, sedang ceria-cerianya untuk mempersiapkan sebuah pernikahan dengan seorang pria yang telah menemani hari-harinya selama kurang lebih 7 tahun. Tidak usah ditanya lagi. Kak Raisa begitu sangat mencintainya. Tapi takdir berkata lain. Takdir merenggutnya dari pelukan kakakku tersayang. Ia pergi keluar negeri untuk suatu pekerjaan, dan tak pernah kembali lagi. Ia mengalami kecelakaan hebat di sebuah negara, di bagian selatan Amerika. Mobil yang dikendarainya benar-benar hancur. Dan orang yang telah merajut mimpi-mimpi indahnya bersama kak Raisa itu meninggal seketika di tempat kejadian perkara. Bahkan kak Raisa tidak sempat lagi melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Jasadnya sudah tidak memungkinkan lagi untuk dibawa kembali ke Indonesia. Maka keluarganya sepakat untuk memakamkannya saja di sana.

      Kak Raisa begitu terpukul. Sangat terpukul. Hatinya begitu sakit. Bagai ditusuk-tusuk jarum yang berbentuk kecil tetapi dalam jumlah yang sangat banyak. Sakit. Sejak hari itu, kak Raisa sudah lupa bagaimana caranya mengukir senyum dan menjalani hidupnya seperti biasa lagi. Dia benar-benar terpukul.

      “Kamu sudah cerita?” tanya kak Raisa. Entah bertanya pada siapa.

      “Belumlah. Aku aja baru tahu hari ini kalau Raina-lah seorang adik yang sering kamu ceritakan itu,” jawab Galaxy.

      “Maksudnya apa?” Akhirnya aku angkat bicara.

      “Rainaku, jadi, aku dan kamu akan menjadi… maksudku, kamu akan menjadi adik iparku!” Galaxy teriak bahagia, lalu menatap wajah kak Raisa dan memberinya senyuman lebar.

      Jantungku berdetak kencang. Lebih kencang. Lebih kencang lagi. Seluruh organ tubuhku seakan berhenti melakukan aktivitasnya kecuali jantung. Tubuhku mematung. Wajahku memucat. Hanya menatap datar ke depan. Apa yang baru saja aku dengar? Galaxy? Kak Raisa?

      “Jadi, Galaxy adalah alasan di balik kembalinya senyuman kakak?” Aku bertanya pelan. Mataku hanya lurus tertuju pada mata kakak. Aku tidak menatap Galaxy lagi. Aku bahkan tidak sudi menatap mata Galaxy lagi. Aku tidak sanggup. Aku tidak mau tahu apapun tentangnya dan matanya lagi. Aku hancur sehancur-hancurnya.

*

      Aku memutuskan untuk tetap menyimpan perasaan yang dalam ini terhadap Galaxy. Aku memutuskan untuk diam. Aku memutuskan untuk menikmati rasa ini seorang diri. Bagaimana bisa aku sanggup menghancurkan kebahagiaan penyemangat hidupku, kakakku, kak Raisa. Bagaimana bisa aku membongkar seluruh perasaanku terhadap Galaxy dan melihat kakak tersayangku kembali ke hari-hari kelamnya? Bagaimana bisa seorang adik yang sangat menyayanginya melakukan semua hal itu?

      Aku memutuskan untuk terluka sendiri. Aku memutuskan untuk menahan sakit ini seorang diri hingga waktunya rasa sakit ini bosan dan pergi begitu saja meninggalkanku. Aku memutuskan untuk diam. Diam dalam kata.

      Kak Raisa sudah pernah merasakan betapa hancur hidupnya, betapa hancur hari-harinya, dan betapa hancur hatinya. Kak Raisa sudah melewati semuanya. Mungkin saja sekarang adalah giliranku. Giliranku untuk merasakan semua yang pernah mendera kak Raisa. Mungkin, agar aku tahu bagaimana rasanya. Aku hanya bisa berusaha ikhlas. Berusaha tersenyum di atas kepedihan hatiku sendiri. Memalsukan semua yang kasat mata.

      Tapi aku hanyalah seorang manusia biasa. Rasa sakit itu nyata aku rasakan. Menusuk-nusuk relung hatiku yang terdalam. Hingga hatiku menjerit-jerit dalam tangis. Mungkin aku akan berusaha mengikhlaskannya. Tapi belum sekarang. Luka di hatiku masih melebar dengan darah yang masih mengalir deras. Aku tidak sanggup untuk harus melihat Galaxy, mimpiku, dan kak Raisa, hidupku. Mimpi dan hidupku bertukar sebuah cincin yang menjadi lambang cinta mereka.

      Aku putuskan untuk tetap berada di sini. Untuk tetap berdiri di sini, di toko buku ini entah sampai kapan. Setidaknya sampai hatiku merasa cukup tenang dan cukup kuat untuk menyaksikan semua hal menyakitkan itu.

      Aku hanya memandangi sebuah buku yang ada di dalam genggamanku tanpa berniat untuk membuka atau membacanya. Aku sedang didera perasaan bimbang.

      "Brak!!!" Seseorang menabrakku. Sebuah buku yang kupegangpun terjatuh ke lantai.

      “Ini bukumu. Maaf, ya,” katanya sembari memberikan buku yang terjatuh tadi padaku.

      Tanpa berkata apapun, aku mengambil buku itu dari genggamannya. Iya tersenyum tipis padaku.


(((CERPEN)))

Sabtu, 21 Desember 2013

Surga-ku

Ini adalah salah satu fiction story yang menceritakan tentang luar biasanya hati seorang yang sangat mulia, yang kita sebut 'Ibu'.

      Surgaku, adalah segalanya yang ku punya. Aku sangat menyayanginya. 

      Jalanan ini selalu sepi. Bahkan di hari kerja sekalipun. Tak sering kujumpai orang yang berjalan melewati jalanan ini. Angin bertiup selaras dengan langkah kaki yang menaklukkan jalanan berbatu dengan cukup banyak pasir di sekitarnya. Anginpun membuat helai demi helai rambutku beterbangan kesana-kemari. Entah sudah seperti apa rupaku saat ini. Tapi aku sangat menikmatinya.

      Sekarang aku telah berdiri di ujung jalanan sepi yang kulewati tadi. Kehirukpikukan mulai terasa. Suara yang berteriak, kendaraan yang berisik, juga angin yang tak kunjung bertiup lagi.

      Aku mendapati surgaku tengah duduk dipeluk keringat yang mengucur kencang di dahinya. Telapak tangan kanan disandarkannya ke dahi, guna untuk mengelap keringat yang semakin deras mengucur. Keringat yang menjadi saksi bisu hidupnya, hidup kami. Bahkan sinar mentari tak memberikan toleransi sedikitpun. Hanya terus memancarkan sinar terangnya.

      Kupegang tangannya, kuciumi kulit keriputnya, lalu aku duduk tepat di sampingnya. Hatiku serasa sakit setiap kali melihat pemandangan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Kami butuh hidup.

      Ia, surgaku, setiap pagi hingga siang hari, selalu menjejalkan dagangannya di tempat ini. Tempat yang begitu ramai ini. Tempat yang sering disebut pasar oleh orang-orang. Dagangan yang sederhana, yang belum pasti akan dibeli orang-orang yang lewat. Tapi kami hanya punya modal yang cukup untuk membeli kerupuk itu, dan menggorengnya, lalu menjualnya.

      Aku sendiri, sebenarnya bisa menggunakan tenagaku untuk mencari pekerjaan lain, untuk membantu surgaku, agar kami bisa tetap hidup. Tapi ia, surgaku, selalu memarahiku jika aku mengatakan niatku itu. Katanya, tugasku hanyalah belajar dan bukan untuk bekerja. Katanya pula, ia masih sanggup untuk memberikan kehidupan bagi keluarga kecil kami. Maka aku hanya diperbolehkan untuk membantu menemaninya saja. Tidak untuk bekerja.

      Seharusnya, saat ini aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Tapi karena keterbatasan biaya, aku harus rela menghentikan semuanya. Semua penunjang mimpiku. Tetapi tidak untuk mengehentikan mimpiku. Mimpiku terus ada di sini, di dalam hatiku, dan aku jaga ketat dengan sebaik-baiknya.

      Aku, benar-benar berbeda dari kebanyakan remaja seumuranku. Mereka pergi ke-mall, bersenang-senang dengan teman-teman, mempercantik diri di sebuah tempat yang disebut salon, dan masih banyak lagi. Aku tidak sanggup untuk dapat merasakan semua itu. Tapi aku pun tidak keberatan dengan kehidupanku sekarang ini. Karena kata surgaku, segala sesuatu patut disyukuri. Cukup dengan kita masih bernafas di hari berikutnya, berarti Tuhan sangat menyayangi kita. Aku berbeda dengan kebanyakan remaja di usiaku saat ini. Tapi itu bukanlah sebuah masalah.

      Pada sore hari, surgaku bekerja untuk membersihkan sebuah toko buku dengan bangunan yang berukuran sangat kecil di sebelah kiri, tepat pada ujung jalan, dengan upah sebuah buku setiap tujuh hari. Ia sudah menegosiasikan semuanya dengan pemilik toko buku mini itu. Buku itu diberikannya padaku agar aku tetap terus belajar walau bukan di sebuah pusat pendidikan. Betapa luar biasanya surgaku itu…

      Ayahku, seorang tulang-punggung yang seharusnya, tengah terbaring lemah di atas tempat tidur yang hanya terbuat dari anyaman. Ia tak kuat lagi untuk bangkit karena sesuatu hal yang disebut penyakit.

*

      Begitu pilu hati ini melihat orang yang sangat kusayangi terus bekerja tanpa henti di sepanjang hari. Pagi, siang, sore, malam, ia selalu bekerja. Menjual kerupuk, membersihkan toko buku mini, serta menjadi seorang pemulung di malam hari. Tidak termasuk pekerjaan-pekerjaan tak terduga yang ia temui dan ia lihat sebagai sebuah kesempatan, lalu diambilnya.

      Seperti menjadi tenaga tambahan untuk menjual koran-koran milik seorang bandar koran, menyemir sepatu untuk membantu anak kecil, penyemir sepatu yang sebenarnya yang sedang kelelahan, mencabuti rumput liar di rumah-rumah yang ia lewati, dan masih banyak lagi. Entah tenaga dari mana yang ada pada dirinya, yang bisa melakukan hal sebanyak itu. Termasuk memikirkan nasib keluarga kami.

      Wajah penat itu, keringat yang mengucur deras itu, kulit keriput itu, kulit yang semakin menghitam karena hantaman sinar matahari, tubuh yang kurus itu, yang hanya tulang berbalut kulit, aku sudah terbiasa dengan semua itu. Tapi tak henti-hentinya hati ini serasa ditampar saat menyaksikan semuanya.

      Maka aku tidak bisa berdiam diri untuk tidak mencari pekerjaan tambahan walau ia, surgaku, akan memarahiku. Aku bekerja secara diam-diam di sebuah rumah yang memakai jasaku untuk membersihkan keseluruhan rumah mereka yang cukup besar itu. Aku selalu melakukannya dengan sepenuh hati. Bagaimana bisa surgaku melakukan pekerjaan yang sangat berat setiap harinya dan aku harus merasa keberatan hanya untuk membersihkan sebuah rumah?

      Ia, surgaku, mengajariku banyak hal. Sangat banyak hal untuk tetap bertahan hidup. Untuk tetap bermimpi walau dalam balutan serba keterbatasan. Untuk tetap tersenyum pada semua orang, juga pada diri sendiri. Ia mengajarkan semuanya dalam diam.

      “Amaryllis,” begitulah orang sering memanggilku. Itu adalah nama pemberian orang tuaku yang sangat aku syukuri. Mereka bilang, mereka menamaiku Amaryllis, nama dari sebuah jenis bunga yang indah. Bunga Amaryllis oleh banyak orang dianggap sebagai simbol kecantikan yang bersinar karena keindahannya. Tetapi, aku sendiri merasa tidak seindah bunga itu. Bahkan aku tidak pantas untuk menyandang nama seindah itu.

      “Iya, bu?” jawabku.

      “Saya mau keluar bersama keluarga. Tolong sehabis membersihkan rumah, kamu tetap berada disini untuk menjaga rumah saya, ya. Nanti saya berikan bonus,”

      “Baik, bu.” Hal-hal seperti ini juga sering terjadi. Aku diminta menjaga rumah mereka, mendapat pekerjaan lebih dari sekedar membersihan rumah, dan mereka akan memberiku upah yang lebih. Alasanku sendiri saat pulang dan membawa uang, adalah karena aku membantu orang dan orang itu memaksaku untuk menerima tanda terima kasihnya. Walau alasan yang sama terus-menerus tidaklah efektif, setidaknya semua masih dipercayai hingga saat ini.

      Sesungguhnya, saat aku harus berbohong, mengucapkan sebuah kebohongan, hatiku terasa teramat sakit. Apalagi jika harus berbohong pada orang-orang yang sangat aku sayangi. Tapi itulah hal terbaik yang bisa aku lakukan saat ini. Bukan berarti tidak ada pilihan, namun itulah pilihan yang aku ambil. Karena aku percaya, akan selalu ada pilihan. Tinggal bagaimana kita dengan bijak mengambil sebuah pilihan yang tepat.

*

      Seluruh kehidupan keluarga kami, yang kami rasakan, terlalu pekat terasa. Setiap hal, bahkan hal kecil, sangat terasa saat kami melaluinya. Hidup kami terasa begitu sulit. Tapi aku percaya, bahwa kami akan menemui sebuah cahaya terang di penghujung nantinya. Ini adalah ujian kehidupan? Aku rasa bukan. Ada beberapa macam kehidupan yang ada di dunia ini. Hidup enak, maupun hidup serba berkerkurangan seperti hidup keluargaku sekarang. Aku tidak mau menyebutnya ‘sebuah hidup yang tidak enak’ karena dalam sebuah kehidupan, pasti ada positif-negatifnya.

      Tuhan terlalu adil dalam segala hal. Jadi, jangan pernah berpikir kalau hidupku, atau hidupmu adalah sebuah kesengsaraan. Karena kita pasti akan menemukan sebuah titik terang di penghujung nantinya. Tergantung bagaimana kita menyikapi semua hal yang terjadi di dalam hidup kita.

      Suatu hari, setelah bertahun-tahun kami melalui hidup yang tak kunjung berkembang, hidup yang begitu-begitu saja, akibat kerja keras dan cucuran keringatnya, kami berhasil menemukan titik terang itu. Titik terang di penghujung jalan yang mengubah segalanya. Yang mengubah keseluruhan kehidupan kami.

      “Kerupuknya enak, bu. Saya boleh pesan banyak?” kata seorang bapak-bapak yang menjadi satu-satunya orang yang membeli kerupuk ibu hari itu.

      “Sebanyak apa, pak?” tanya ibu dengan suara yang melemah.

      “Ya, cukup banyak. Sekitar 10 toples?”

      “Saya tidak punya modal sebanyak itu untuk membeli kerupuknya, pak.” Sahut ibu dengan penuh kejujuran.

      “Kalau saya yang memodali? Saya akan memberi ibu uang yang cukup untuk membeli semuanya.”

      “Bapak akan kasih uang saya, begitu?”

      “Iya, benar.”

*

      Bapak itu pun membawa kesepuluh toples penuh berisi kerupuk yang ibu, surgaku buat.

      Dalam beberapa hari, bapak itu kembali dengan wajah penuh binar. Ia menghampiri ibu dengan senyuman yang merekah.

      “Eh, bapak lagi. Mau pesan kerupuk lagi, pak?” tanya ibu yang memaksakan senyuman di tengah-tengah kepenatannya.

      “Kenalkan, nama saya Sujono. Sebenarnya, saya adalah seorang penjual kerupuk juga. Jadi, saya punya semacam dapur untuk memasak kerupuk-kerupuk dan menyebarkannya ke warung-warung, bahkan tempat-tempat makan. Lalu ke-10 toples kerupuk yang saya pesan dari ibu beberapa hari yang lalu, saya sebarkan. Dan saya mendapat banyak sekali pujian, bu. Saya senang sekali.”

      “Oh, bapak Sujono ini pengusaha kerupuk, toh. Saya Ningsih, pak.” Ibu menjabat tangan pak Sujono yang direntangkannya dari tadi.

      “Saya punya tawaran kerja untuk ibu. Bagaimana kalau ibu bergabung dengan saya? Kita jadi partner kerja, bu. Penghasilannya akan kita bagi sama rata.”

      “Benar begitu, pak? Tapi saya belum terlalu mengerti.”

      Mereka melakukan negosiasi besar di bawah sengatan mentari.

      “Seperti biasa, saya akan memberi modal. Saya akan membeli banyak kerupuk mentah yang kemudian akan ibu olah menjadi kerupuk yang sudah bisa dimakan. Bagaimana, bu?”

      “Bapak serius?” mata ibu terbelalak kaget.

      “Tentu saja. Bagaimana? Ibu setuju?”

      “Tentu saya setuju. Alhamdulillah, ya Allah!” Ibu menengadahkan kedua telapak tangannya.

      “Lalu apakah ibu setuju dengan penghasilan yang akan kita bagi rata?” tanya bapak Sujono lagi.

      “Ya, tidak toh, pak.”

      “Maksud ibu?”

      “Bagaimana kalau 60-40? 60% untuk bapak dan 40% untuk saya?”

      “Kenapa begitu?” tanya bapak Sujono heran.

      “Lah modalnya dari bapak. Saya kan hanya bantu menggorengnya. Tidak sepadan lah, pak.”

      “Tapi saya tidak keberatan jika harus membaginya sama rata,”

      “Tidak usah, pak. 60-40 saja.” Ibu tetap bersih-keras.

      “Baiklah. Terima kasih banyak, bu. Ini alamat kantor saya. Besok ibu boleh langsung kesana, ya.” Bapak Sujono memeberikan secarik kertas pada ibu.

      Ibu, surgaku, sangat beruntung karena dipertemukan dengan bapak Sujono oleh Tuhan. Bapak Sujono adalah seorang partner kerja yang jujur serta baik. Usahanya pun semakin berkembang. Sehingga membuatnya membelikan keluarga kami sebuah rumah yang lebih layak lagi untuk kami tempati. Ayah pun tengah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit.

*

      Sekarang, kebahagiaan mulai menyelimuti keluarga kecil kami.

      Seperti aku saat ini, akhirnya aku berhasil meluncurkan buku pertama dalam karirku sebagai penulis. Karena buku-buku yang diberikan ibu waktu itu, membuatku menemukan sebuah mimpi yang tersimpan rapi di dalam diriku. Menulis.

     Setiap hari, di atas lembar demi lembar kertas bekas yang aku kumpulkan saat sedang berjalan, aku menulis tanpa henti dengan penuh kebahagiaan yang membuncah di dalam dada. Aku merasa, inilah hidupku. Aku telah menemukan duniaku.

     Kehiduan telah memberiku banyak hal. Termasuk lebih mencintai tulang-punggung keluargaku yang tanpa henti, tanpa keluh kesa, terus berusaha demi kelangsungan hidup keluarganya.

     Tuhan pun telah menganugerahiku seseorang yang sangat menyayangiku dan berniat untuk menikahiku secepatnya. Ia adalah Aditya Sujono, anak sulung bapak Sujono.

     Aku bertemu dengannya dalam diam. Hanya tatapan kami yang berbicara kala itu. Kami terus saling menatap tanpa mengeluarkan sepatah-katapun. Benar, hati ini luluh hanya oleh sebuah tatapan.

     Hidup kami benar-benar berubah karena semua kerja kerasnya. Seorang ibu, seorang yang menjanjikan surga bagiku, seorang yang paling hebat yang pernah aku ketahui. Kasih sayangnya terhadapku, terhadap ayah, terhadap keluarganya, tak lekang oleh waktu.

     Aku, adalah orang yang paling merasakan bagaimana sulitnya hidup ibu. Lebih sulit dari hidupku. Walau ayah tidak bisa lagi membantu kelangsungan hidup keluarga kami, ibu tetap menyayanginya dengan sepenuh hati. Walau lelah yang ibu rasakan saat pulang ke rumah, ibu tak pernah lupa untuk memberi makan ayah, membasuh tubuhnya dengan air hangat yang sebelumnya telah ibu panaskan, serta mengajak ayah berdoa bersama untuk kesembuhannya saat menjelang tidur. Ibu menghadapi hidup tanpa memperlihatkan sedikitpun air mata.

Ia, surgaku, ibu terbaik yang pernah aku punya.

Selamat hari ibu. :)



(((CERPEN)))

Rabu, 06 November 2013

Secercah Kebahagiaan

Kilau mentari senja itu, cukup menyilaukan mata. Maka ku raih tas tanganku dan ku letakkan tepat di samping kepalaku yang terkena seberkas sinar matahari. Sebentar lagi, mentari akan benar-benar terbenam. Mengubah siang yang cerah binar menjadi malam yang gelap berbalut bintang-bintang dan sebuah pencahayaan terang mempesona yang disebut bulan.

Warna mentari saat senja sungguh indah. Lebih indah dari kerlap-kerlip lampu kota di malam hari, juga lebih cantik dari paras kecil, imut dan menggemaskan milik boneka Barbie. Keindahannya mampu mengguncang ketenangan jiwaku. Aku sungguh menyukainya. Menyukai warna oranye pada mentari yang mulai terbenam serta suasana yang nyaman yang selalu kurasakan kala menikmatinya.

Aku tiba tepat waktu. Saat mentari benar-benar akan menghilang dan membiarkan para bintang-gemintang menggantikan pekerjaannya menerangi bumi. Kumasuki kafe yang terletak tepat menghadap pantai yang luar biasa indahnya saat senja. Sinarnya khusus terpapar pada kafe ini dan beberapa macam tempat yang berbaris indah di kiri dan kanan kafe. Ada florist shop, sport shop, dan masih banyak lagi. Semuanya berbaris indah menghadap lautan lepas.

Bibir pantai terlihat indah dan menawan dengan banyak orang yang duduk menatap ke mentari yang hanya sebentar lagi akan terbenam itu. Semua orang menikmatinya. Menikmati suasana menyenangkan serta menenangkan yang terjadi setiap senja.

Senja adalah salah satu favoritku. Merupakan salah satu duniaku. Dunia yang nyaman untuk tempat kumenetap sepanjang waktu. Menghabiskan seluruh kisah terindahku dengan orang-orang yang ku sayangi.

Cepat-cepat kukeluarkan sketchbook dari dalam tas, beserta pensil kesayanganku. Maka ku mulai membuat guratan-guratan indah dengan objek luar biasa yang terbentang di depan mataku. Para orang-orang yang bersantai di bibir pantai, menunggu mentari terbenam. Aku tersenyum sepanjang melakukan kegiatanku.             
Hal yang rutin ku lakukan pada hari libur. Aku datang ke kafe ini saat senja, lalu membiarkan jari-jemari melakukan hobiku sejak kecil ini; menggambar.

Menggambar memang adalah hobiku. Tetapi aku belum pernah berani mencoba untuk melakukannya pada kanvas putih. Aku belum mampu. Atau mungkin, takut kalau mendapatkan hasil yang buruk. Semua keluarga dan teman-teman selalu memintaku untuk melakukannya. Tapi aku masih belum bisa. Entah kapan aku akan mulai membuka diriku untuk melakukan hal itu. Untuk sedikit melangkah kedepan.

Dimanapun, kapanpun, dalam keadaan apapun, jikala ide menyusup masuk ke kepalaku, aku akan langsung menuangkannya pada sketchbook-ku tersayang. Dan tempat ini, kafe ini, adalah yang menjadi favoritku. Tempat ini begitu nyaman dan indah. Bagai memancing semua kemampuan menggambarku untuk dapat ku tuangkan. Sangat banyak ide yang bisa ku temukan ditempat ini. Apalagi pantai yang terbentang luas di depan mata, mempunya ribuan, jutaan, bahkan miliaran ide yang tersimpan rapi dan sesegera mungkin menyergap relung hatiku yang langsung saja merasa bahagia dan ingin sekali menggambar. 
            
            Hari ini tidak seperti biasanya. Ada suatu hal yang menyusup masuk ke dalam relung hatiku. Bukan sebuah ide untuk menggambar. Tapi… hal itu sangat indah. Sangat pekat terasa di kedalaman hati. Menyentil kecil pada relung hati, dan seketika itu juga jantungku memompa dengan kecepatan diatas rata-rata. Cepat sekali. Membuat seluruh tingkahku menjadi aneh dan kacau.

Objek mengagumkan itu berada tepat di depan mataku. Memberi senyuman hangat pada seorang teman yang kemudian berlalu. Ia memesan sesuatu pada seorang pelayan kafe. Dengan mata sayu yang berbinar dan senyum manis yang terlukis jelas diwajahnya. Tanpa sadar, aku membuka lembar berikut dari sketchbook-ku yang masih kosong. Tanpa terasa pula, hatiku yang menggambar objek indah itu diatas sketchbook-ku. Bukan tanganku lagi yang melakukannya, melainkan hatiku.

Mataku mulai menekuri satu per satu keindahan yang tergambar jelas disana tanpa sedikitpun memalingkan wajah. Indah sekali. Sekarang ia disibukkan dengan sebuah kamera Digital Single Lens Reflex atau yang kita kenal dengan kamera DSLR yang menggantung mantap di lehernya.

Aku belum pernah melihatnya disini. Entah sudah berapa kali aku datang ke tempat ini selama 6 bulan terakhir, dan baru hari ini aku diperkenalkan dengan seorang lelaki berparas malikat super tampan yang berada tepat di depan mataku sekarang.

*

“Permisi,” kata sebuah suara yang cukup menggangguku yang sedang asik-asiknya menggambar.
Aku sedikit menoleh, “Iya?” tanyaku sembari coba mengenali wajah seseorang yang berdiri di samping tempat aku duduk.
“Boleh aku duduk disini? Tempatnya penuh semua. Sebentar aja, kok. Aku hanya perlu mengedit beberapa foto.”
“Silahkan.” Tidak salah lagi! Dia adalah laki-laki kemarin. Lelaki yang kusebut berparas malaikat itu.

Bagaimana ini? Jantungku saling berpacu lagi dengan aliran darah yang mengucur deras di dalam tubuh. Apakah ini adalah cara Tuhan untuk mendekatkan kami? Ah, terima kasih, Tuhan. Engkau maha baik.

“Aku  Razy,” kata lelaki berparas malaikat itu sembari mengulurkan tangan kanannya untuk ku jabat.
“Arizah,” kataku sembari menyebutkan namaku dan menjabat tangan dinginnya.
“Kamu sedang apa?”
“Menggambar.”
“Wah, hobi kita hampir sama, loh! Kamu menuangkan objek indah yang kamu lihat dalam sebuah sketchbook, sedangkan aku, dengan menggunakan sebuah kamera.”
“Oh, iya. Kemarin aku sempat lihat kamu. Dan tanpa lupa membawa kamera itu.”
Razy hanya tersenyum lalu kembali memberikan seluruh perhatiannya pada sebuah laptop yang duduk manis di depannya.
“Ah, aku pergi duluan, ya, Arizah.” Razy menyebutkan namaku dengan sedikit keraguan. Mungkin dia cukup melupakan nama yang ku sebutkan tadi.

Razy lalu berlalu dengan cepatnya setelah berpamitan padaku. Tapi, rasanya aku masih belum mau berpisah dengannya. Mengapa peristiwa yang selalu ku tunggu-tunggu sejak pertemuan pertama kami kemarin, berlalu dengan begitu cepatnya? Aku masih sangat dibuat penasaran oleh lelaki berparas malaikat bernama Razy itu.

Seakan seluruh alam semesta meminta, menyuruh, mengharuskanku untuk bangkit dan pergi mengejar Razy. Untuk mengetahui apa yang membuat Razy harus pergi terburu-buru. Maka aku bangkit dari tempat dudukku, mengabaikan keindahan senja yang masih bisa ku rasakan dalam beberapa menit lagi, lalu berlari menaiki sebuah taksi dan mengejar motor Razy yang berlalu begitu cepat.

Entah berapa lama, motor Razy berhenti di sebuah perkampungan kumuh. Banyak anak-anak dengan pakaian ‘seadanya’ berlarian riang kesana-kemari. Sangat menyentuh relung hatiku yang membuat mata ini mulai berkaca-kaca. Aku memutuskan untuk tidak keluar dari taksi. Sepertinya, aku bisa walau hanya menyaksikan apapun yang dilakukan Razy dari balik kaca jendela taksi.

Razy memasuki sebuah rumah lalu keluar dengan dua orang anak, laki-laki dan perempuan yang terlihat luar biasa bahagianya. Mereka duduk di depan rumah yang baru saja Razy masuki. Keduanya tertawa gembira saat Razy menunjukkan sesuatu dalam kameranya. Beberapa saat kemudian, seorang gadis berparas cantik dan lembut keluar dengan baki yang berisi cangkir seadanya yang lalu diberikannya pada Razy. Razy menyambutnya dengan sebuah senyuman lalu menyesapnya perlahan. Gadis yang kira-kira seumuran denganku itu lalu duduk di samping Razy. Mereka berdua dikelilingi oleh kedua anak kecil tadi. Seperti sebuah keluarga yang sangat bahagia. Tapi aku yakin seratus persen mereka bukanlah sebuah keluarga. Karena kedua anak disamping merekapun lebih pantas disebut adik-adik mereka daripada anak.

Tatapan Razy berbeda terhadap perempuan itu. Tatapan yang penuh arti. Apakah perempuan itu adalah kekasihnya? Entahlah. Tapi bagaimana bisa mereka saling berkenalan? Kepalaku kacau. Kepalaku pusing. Aku tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Kepalaku hanya bisa sibuk mengira-ngira tanpa tahu kebenarannya.

*

“Hey!” teriak Razy saat baru saja tiba dan langsung menduduki bangku di sampingku.
“Razy? Habis motret lagi?” tanyaku.
“Iya dong!” kata Razy dengan semangat sembari mengarahkan lensa kameranya ke arahku dan, “krik,” Razy memotretku.
“Apa, sih? Bilang-bilang dulu dong kalau mau foto. Kan biar bisa gaya dulu,” kataku cemberut.
Ngapain gaya? Kamu punya bentuk wajah yang bagus, tau! Apalagi dagu runcing kamu, tuh. Nge-gemesin banget…” Razy mencubit daguku. Aku tersipu malu.
“Bohong banget sih. Pasti kata-katanya sama deh yang di bilang kesemua cewek,” kataku, mencoba bercanda.
“Ih, dibilangin juga! Beneran, beneran. Wajah kamu tuh bagus banget buat jadi objek foto. Mau kamu kasih lihat muka kayak gimana juga, tetep bagus hasil fotonya.” Razy berkata jujur.
Aku semakin tersipu malu. Bahkan lelaki berparas malaikat yang kukagumipun, mengagumi wajahku. Bagaimana ini? Benarkah dia yang Kau sediakan untukku, Tuhan?
“Kamu mau ikut aku, nggak?” tanya Razy yang masih saja sibuk dengan kamera kesayangannya .
“Ikut kemana?”
“Suatu tempat,”
Okay,”

Akupun menaiki motor besar milik Razy yang seketika itu melaju kencang. Angin bertiup lebih kencang lagi. Membuat rambut panjang yang kugerai melayang kemana-mana, menutupi wajahku. Aroma khas lelaki tercium pekat dihidungku. Aku menikmatinya.

“Tempat apa ini, Raz?” tanyaku saat Razy menghentikan dan memarkir motornya. Ini adalah tempat waktu itu. Tempat yang dikunjungi Razy waktu itu. Pemukiman kumuh ini. Mengapa Razy mengajakku ke tempat ini? Untuk memperkenalkan dunianya padaku? Sesuatu yang ia senangi? Ia akan membaginya denganku?
“Mungkin rasa peduliku terhadap sekitar yang mengantarku pertama kali ke tempat ini dua tahun yang lalu.” Razy menerawang.
“Kamu punya jiwa sosial yang tinggi, ya,”
Nggak juga. Aku hanya merasa sedikit lebih beruntung dari mereka. Dan tidak sanggup hidup di atas segala keberuntungan yang aku punya, sedangkan masih banyak orang seperti mereka di sekelilingku. Rumahku tepat berada dibalik pemukiman ini. Sebuah perumahan real estate yang dibanggakan orang-orang yang hanya mementingkan diri mereka sendiri.”

Aku hanya mencoba mendengarkan Razy sebaik mungkin tanpa mengalihkan penglihatanku dari paras malaikat yang dimiliki Razy itu.
“Ayo, aku perkenalkan dengan sebuah keluarga yang sudah sangat akrab denganku.” Razy lalu berjalan lurus menuju rumah yang ia masukki waktu itu. Aku mengikutinya dari belakang.
Razy langsung saja disambut oleh kedua anak-anak yang ku lihat waktu itu.
“Mas Razy. Selamat sore,” kata suara lembut milik perempuan yang ku lihat pula waktu itu. Razy tersenyum menatap si pemilik suara lembut tadi sembari mengelus pundaknya.
“Riz, kenalin. Ini Karina, dan anak-anak kecil yang lucu-lucu ini Fahra dan Fahri, adik-adik Karina. Mereka berdua kembar.” Razy memperkenalkan semuanya padaku. Akupun menjabat tangan mereka satu per satu. Entah perempuan macam apa yang ada di hadapanku saat ini, yang katanya bernama Karina, sungguh mengeluarkan karisma luar biasa saat matanya menatapku. Aku bahkan bisa merasakannya saat ia menyebutkan namanya dan tersenyum manis kepadaku. Aku merasa sudah sangat dekat dengan perempuan yang memiliki tingkat keramahan di atas rata-rata ini. Ramah sekali… dan sopan.
“Mereka nggak punya orangtua lagi. Karina yang menjadi tulang-punggung keluarga ini. Karina mau bekerja dimana saja, menjadi apa saja, asalkan halal. Ia bahkan pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Karina sangat bertanggungjawab pada keluarganya. Pada kedua adik-adiknya ini,” jelas Razy.

Kami semua duduk dilantai yang beralaskan tanah. Razy tidak merasa risih sedikitpun. Ia seperti menikmati semuanya. Tertawa bahagia sembari bergurau dengan Fahra dan Fahri yang juga tertawa gembira. Karina hanya terus melesakkan senyum manisnya. Benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga. Sebuah keluarga yang bahagia.

Aku mencoba membangun percakapan dengan Karina yang bisa langsung nyambung. Karina benar-benar perempuan cerdas. Apakah perempuan seperti ini yang disukai Razy? Tidak. Aku tidak boleh membuat kesimpulan apapun. Tadi saja Razy tidak memperkenalkan Karina sebagai siapapun apalagi pacarnya. Jadi, tidak mungkin.

Seandainya saja Karina adalah seorang wanita paruh baya, orang tua dari Fahra dan Fahri, aku tidak akan mungkin sekhawatir ini. Entah kapan aku mampu membongkar seluruh rasa cinta yang kupunya terhadap Razy, batinku.

*

Hari ini benar-benar ku habiskan bersama Razy, lelaki berparas malaikat itu. Aku diajaknya berfoto-foto di pantai, ia memintaku untuk melukiskan wajahnya, kami berbagi hobi yang kami punya sore tadi. Aku benar-benar merasa senang. Aku merasakan secercah kebahagiaan yang diberikan Razy. Tapi, apakah Razy merasakan kebahagiaan yang sama denganku? Tentu saja! Aku tahu benar kalau Razy sangat menikmati hari ini. Begitupun aku. Belum pernah ada hari semacam ini di dalam hidupku. Biasanya orang-orang yang sudah ‘ber-label’ pacarkulah yang menghabiskan hari semacam ini bersamaku. Belum pernah ada lelaki asing, berparas malaikat, membuat kata-kataku meghilang seketika, dan entah kapan akan memaksaku memberikan ‘label’ pacar pada dirinya, yang menjadi teman dihari semacam ini bagiku. Hari yang sangat menyenangkan, hari yang sangat berkesan, hari yang tidak terlupakan.

“Lihat, nih, jelek banget! Hahaha.” Tawa Razy menghambur setelah menunjukkan foto wajah cemberut yang sengaja diambilnya tadi.
“Dihapus, ah, dihapus!” kataku, memamerkan tampang serupa dengan yang ada pada foto itu.
Razy hanya terus tertawa sambil sesekali menyuapi mulutnya dengan ayam goreng di depannya.
Nyebelin banget sih!”
Nggak kok, enggak. Kamu kan selalu cantik. Ingat! Wajah yang kamu punya itu bagus. Unik!”
“Mulai deh..”
“Makan dulu, Riz.”
“Iya, Raz.”
“Iya doang tapi nggak dimakan.”
“Makanya jangan nyebelin dong!”
“Iya deh, iya. Hahahahaha.” Razy tertawa lagi.

Aku mencoba membuat sebuah keajaiban dunia lagi. Kucoba membuat garis demi garis pada sketchbook-ku. Terbang melayang di kedalaman hati, mencoba memahami setiap garis per garis yang kuciptakan dan tersusun rapi dalam balutan cover hitam penuh harapan.

Perlahan, sebuah wajah tertera di atas kertas putih dalam sketchbook ber–cover hitam milikku. Sebuah wajah milik malaikat yang tersenyum manis di depanku selama aku mencetaknya di permukaan kertas putih bersih ini.

Sembari menyunggingkan senyum, aku memperlihatkan hasil karyaku padanya. Ia melompat kegirangan. Melihat betapa indah wajah milik malaikat yang ada pada dirinya. Menjadi sebuah identitas utama selain nama untuk dapat dikenali.

By the way, sekali-sekali aku mau dong diajak kerumah kamu,” kata Razy lagi.
“Untuk apa?”
“Aku ingin melihat-lihat lukisan yang kamu punya. Pasti kamu punya banyak, kan?”
Aku terdiam. Tetapi wajah itu terus saja memintaku untuk menjelaskan sesuatu smapai akhirnya aku memutuskuskan untuk membuka suara, “Sampai sekarang, aku belum punya keberanian untuk melukis di atas kanvas,” kataku sembari menundukkan kepalaku.
“Benarkah? Kenapa?” tanya Razy, cukup kaget.
“Entahlah. Aku hanya belum berani.”
“Tapi kapan? Keberanian nggak akan pernah datang begitu aja tanpa sebuah kemauan. Gambar kamu bagus-bagus semua kok. Jadi kapan kamu akan mengundang keberanian itu datang?”
Kata-kata Razy cukup menyentil batinku. Apakah sekarang sudah saatnya? Melangkah satu langkah lebih maju? Tapi aku harus mulai darimana?


*

“Kesini lagi?” tanyaku.
“Yup. Kamu nggak keberatan, kan?” Razy mencoba menilitik wajahku.
Enggak,” jawabku pelan.

Aku keberatan. Iya, aku benar-benar keberatan jika harus di ajak ketempat ini terus-menerus. Aku merasa minder setiap aku bertemu Karina. Ia adalah perempuan yang mempesona. Aku tak sanggup melihat Razy dan Karina kala saling menatap. Apa aku harus mengatakan pada Razy semua rasa yang kupunya untuk memperjelas semuanya? Juga untuk membuang jauh-jauh rasa khawatir yang kian hari, kian menyergap batinku. Aku tidak mampu. Melukis diatas kanvas saja aku belum mampu. Apalagi untuk mengumpulkan keberanian semacam itu.

Tapi kali ini berbeda. Razy bahkan tidak mengajakku masuk ke rumah Karina dan bertemu mereka semua. Kami hanya berdiri di seberang jalan menghadap kerumah yang sangat sederhana milik Karina. Kami hanya berdiri bersandar di motor milik Razy sambil mengobrol.

“Kita nggak kesana, Raz?” Akhirnya aku menanyakannya juga.
“Aku ingin kita disini aja. Maukah kamu mendengarkan curahan hatiku?” Razy mengatakannya tanpa sedikitpun memalingkan wajahnya dari rumah sederhana milik Karina.
“Tentu saja, Raz,” balasku.
“Aku ingin membahagiakan mereka. Membahagiakan Fahra, Fahri, juga Karina. Aku ingin membuat mereka merasa menjadi orang paling bahagia di dunia ini.”
“Kamu sangat menyayangi mereka, ya?”
“Mungkin lebih dari itu. Aku tidak mampu kehilangan mereka.”

Pembicaraan macam apa yang sedang berlangsung ini. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Razy? Aku terus menunggu hingga ujung pembicaraan.

“Aku sangat menyayangi Fahra dan Fahri. Aku sangat menyayangi Karina. Ternyata, hubungan yang kami bangun buru-buru satu setengah tahun yang lalu, bukanlah sebuah kesalahan. Malah sekarang, aku benar-benar sangat bersyukur karena memiliki mereka. Karena memiliki Karina.” Razy tersenyum menatapku.

Tapi kali ini, senyuman itu bukanlah senyuman menenangkan batin lagi bagiku. Melainkan senyuman yang sangat tajam, melebihi ketajaman pisau yang seketika menusuk-nusuk hatiku. Hatiku menjerit. Sakit… Sakit sekali. Bisa-bisanya senyuman menenangkan batin yang selalu kutunggu-tunggu, sekarang menjadi pisau paling tajam yang pernah ada. Razy baru saja menyobek-nyobek relung hatiku. Meruntuhkan seluruh harapan yang berdiri kokoh berbingkai yang kubangun dalam tanah lapang di permukaan hatiku. Dengan mudahnya, Razy menancapkan pedang tajam, membuat goncangan maha dahsyat yang seketika meruntuhkan semuanya. Semua yang kubangun penuh harap.

Kok diam?” tanya Razy saat aku tidak menjawab.
Ia tidak tahu sedang ada bencana besar yang terjadi di dalam hatiku. Bencana yang meluluh-lantahkan permukaan hati yang indah berhias bunga-bunga yang kutanam seiring waktu berjalan. Seiring waktu yang kulalui hanya bersama Razy.
“Sepertinya aku nggak enak badan. Tolong antarkan aku pulang, Raz.” Suaraku benar-benar melemah. Kekuatan yang tersisa hanyalah sebuah kekuatan yang mampu menopang diriku yang sebentar lagi akan terjuntai lemah di tanah.
“Kamu sakit? Kamu kenapa, Riz?!” Razy cukup panik. Lalu seketika ia melajukan motornya dan membawaku ke rumah.

*

Setelah hari itu, aku tidak pernah melihat Razy lagi. Entah kenapa setelah beberapa hari kuhabiskan untuk memikirkan semuanya, aku masih saja mempunyai secercah harapan di dalam hatiku. Harapan bahwa Razy diciptakan Tuhan hanya untukku. Bahkan hal picik lewat di kepalaku dengan kasarnya. Aku sempat berpikir bagaimana mungkin keluarga Razy mengizinkan perempuan sesederhana itu yang menjadi wanita pendamping hidup Razy. Aku benar-benar menjadi korban sinetron-sinetron picik yang banyak beredar. Untungnya, aku masih punya Tuhan. Aku tidak boleh sekalipun berpikiran seperti tadi. Tuhan saja tidak pernah membanding-bandingkan setiap ciptaannya, apalagi aku yang benar-benar tidak punya hak atas kehidupan orang lain.

Setelah hari itu pula, aku masih terus mencari Razy. Di kafe; tempat pertama kita bertemu, bahkan di sekitar rumah Karina. Aku tidak pernah melihat Razy lagi. Aku merindukannya. Merindukan hari-hari indah yang ku lalui bersamanya. Razy yang memperlakukanku dengan begitu baik, mengagumi bentuk wajahku, dagu runcingku, memotret tanpa sepengetahuanku, Razyku, menghilang. Menghilang ditelan kemelut hatiku. Tapi apakah Razy tidak menghawatirkanku? Aku sakit waktu itu.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu. Aku tidak pernah lagi melihat Razy hingga aku penat mencari. Mencoba membuka diriku untuk hal-hal lain. Untuk apa aku terus memikirkan Razy yang belum tentu juga memikirkanku? Bagaimana kalau Razy tidak mengubah semua yang ia katakan waktu itu? Kata-kata yang menyakitkan hatiku, sedangkan aku masih sangat berharap ia akan melakukannya. Aku tidak mau menanggung resiko itu. Hidupku masih terbentang luas di depan mata. Setidaknya, ada secercah kebahagiaan yang telah kurasakan bersama dengan Razy. Kalau memang Razy yang Tuhan sediakan untukku, tentu ia akan kembali padaku.

*

Ada satu hal yang pernah dikatakan Razy, yang belum mampu kuhapus dari dalam kepalaku. Bahkan hal itu mengaung-ngaung sepanjang hari mengusik bantinku, “Jadi kapan kamu akan mengundang keberanian itu datang?” begitulah kira-kira pertanyaan yang pernah Razy lemparkan padaku. Hal itu pula yang membuatku sekarang sudah berani mencobanya. Menuangkan hobiku diatas kanvas putih bersih yang bersandar kokoh di depanku. Senyumannya. Itulah hal pertama yang coba kulukis di atas kanvas berukuran 60cm x 30cm in.

“Undangan kawinan siapa, ma?” tanyaku saat mendapati sebuah surat undangan berwarna putih di atas meja, di ruang tamuku.
Nggak tahu, sayang. Mama belum sempat lihat tadi,” jawab mama dari dalam kamarnya yang memang terletak di samping ruang tamu.

Perlahan kubuka sampul depan kertas undangan itu. Menekuri satu per satu nama yang tertera diatasnya, “Razy & Karina”.


(((CERPEN)))